SURABAYA. Lensadakwah.com – Kegiatan Baitul Arqam Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sawahan yang digelar pada Selasa, 17 Februari 2026, di Hotel Great Diponegoro Surabaya, berlangsung penuh semangat dan refleksi mendalam. Sejak pagi, para peserta mengikuti rangkaian acara dengan antusias, terlebih saat sesi penyampaian materi oleh Ketua LDK PP Muhammadiyah, Muchamad Arifin.

Dalam pemaparannya, Muchamad Arifin mengajak seluruh peserta untuk tidak berhenti pada dakwah yang bersifat seremonial atau terbatas pada ruang-ruang masjid semata. Menurutnya, dakwah hari ini menuntut gerak yang lebih luas dan keberanian yang lebih besar. “Bergeraklah, berdakwahlah memberikan pencerahan kepada siapa saja dan di mana saja,” pesannya dengan tegas, membangkitkan semangat peserta yang hadir.
Yang menarik, materi yang disajikan bukan sekadar konsep normatif, melainkan berangkat dari pengalaman langsung beliau dalam mendampingi dan membina berbagai komunitas dakwah di lapangan. Dengan penyampaian yang komunikatif dan didukung multimedia yang atraktif, paparan tersebut terasa hidup dan kontekstual. Tidak terasa, dua jam sesi berlangsung begitu cepat karena peserta larut dalam kisah-kisah nyata, tantangan lapangan, hingga strategi yang aplikatif.
Ia menekankan bahwa dakwah bukan hanya di mimbar dan bukan hanya di dalam masjid. Di luar sana, terdapat banyak ruang dakwah yang menanti sentuhan para kader Muhammadiyah. Komunitas-komunitas hobi, kelompok marginal, hingga masyarakat pedalaman adalah ladang dakwah yang terbuka luas. Justru di sanalah dakwah menemukan makna keberpihakannya.
Menurutnya, dakwah di luar masjid memang tidak mudah. Ia membutuhkan keberanian untuk memulai, kesabaran dalam membina, serta kesiapan berkorban, termasuk dari sisi waktu dan sumber daya. Namun, ketika dakwah itu berhasil menyentuh hati dan mengubah kehidupan, ada kepuasan batin yang tidak ternilai. “Di situlah kita merasakan bahwa dakwah benar-benar hidup,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa kader Muhammadiyah, khususnya di Sawahan, ditantang untuk menjadi dai komunitas—dai yang hadir, menyapa, dan membersamai masyarakat dalam realitas keseharian mereka. Baitul Arqam kali ini bukan sekadar forum penguatan ideologis, tetapi momentum penyadaran bahwa dakwah adalah gerakan yang harus terus meluas.
Dari Sawahan, semangat itu kembali diteguhkan: dakwah bukan sekadar wacana, melainkan gerakan nyata yang menyentuh kehidupan. Dan siapa pun yang hadir pagi itu pulang dengan satu kesadaran baru—ladang dakwah terbentang luas, menunggu untuk digerakkan.