LENSADAKWAH.COM – Surabaya. Derasnya arus teknologi informasi yang kian mendominasi kehidupan modern menjadi latar refleksi dalam Kajian Inspirasi Shubuh di Masjid At-Taqwa Pogot Surabaya, Rabu, 28 Januari 2026. Usai shalat Shubuh berjamaah, jamaah diajak sejenak berhenti dari kesibukan layar gawai untuk menata ulang arah hidup dan iman.

Kajian yang disampaikan Ustadz Muchamad Arifin ini diawali dengan pemutaran sebuah video pendek reflektif yang menggambarkan betapa dahsyatnya perkembangan teknologi digital hari ini. Video tersebut menampilkan realitas banyak orang yang begitu larut dengan gadget—terus menggulir layar, kecanduan informasi, hingga tanpa sadar melalaikan shalat, lupa waktu, dan abai terhadap tanggung jawab sebagai hamba Allah. Tayangan singkat itu menjadi pengantar yang menggugah, menyentuh kesadaran jamaah bahwa teknologi yang tak dikendalikan dapat menjauhkan manusia dari nilai-nilai iman.
Dalam penyampaiannya, ditegaskan bahwa teknologi sejatinya hanyalah alat, bukan tujuan hidup. Jamaah diingatkan pada firman Allah yang bermakna, “Aku tidak menciptakan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku,” serta peringatan agar kehidupan dunia tidak melalaikan dari mengingat Allah. Pesan ini dipertegas dengan sabda Rasulullah ﷺ yang artinya, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya,” sebagai pengingat agar umat bijak menyaring konten dan penggunaan media digital.

Suasana kajian berlangsung hangat dan penuh perenungan. Jamaah diajak memahami bahwa iman di era digital tidak cukup hanya dijaga di masjid, tetapi juga di genggaman tangan. Shalat tepat waktu, zikir, dan kepedulian sosial tidak boleh tergeser oleh notifikasi dan hiburan tanpa batas. Sebagaimana pesan Al-Qur’an yang artinya, “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh,” waktu menjadi amanah yang harus dijaga dari kesia-siaan digital.
Kajian Shubuh ini menjadi ruang hening di tengah riuhnya teknologi—mengajak jamaah untuk kembali menempatkan iman sebagai kompas, Al-Qur’an sebagai penuntun, dan teknologi sebagai sarana kebaikan. Dari masjid yang sederhana, terbit pengingat kuat bahwa kemajuan tidak boleh mengalahkan kesadaran, dan kecanggihan tidak boleh menggeser ketaatan.
dg