LENSADAKWAH.COM. Surabaya – Masjid At-Taqwa Pogot, Surabaya, Rabu (4/2/2026), dipenuhi suasana khidmat sejak Shalat Subuh berjamaah ditunaikan. Jamaah kemudian mengikuti Kajian Inspirasi Subuh bersama Ust. Muchamad Arifin yang mengajak merenungi satu persoalan penting: bagaimana menjaga iman di tengah derasnya perkembangan teknologi informasi yang bergerak cepat dan tak pernah berhenti.

Dalam kajiannya disampaikan bahwa teknologi pada hakikatnya adalah nikmat Allah yang memudahkan kehidupan. Namun tanpa kendali iman, kemudahan itu justru dapat melalaikan manusia dari kewajiban utamanya sebagai hamba Allah. Allah telah mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9). Di era digital, kelalaian sering datang bukan karena kesibukan berat, tetapi karena waktu luang yang habis tanpa terasa di depan layar.
Untuk menggugah kesadaran jamaah, diputar sebuah video pendek yang menggambarkan betapa dahsyatnya perkembangan teknologi hari ini. Video tersebut menjadi cermin bahwa banyak orang tanpa sadar diperbudak oleh gawai, hingga lupa waktu, lupa ibadah, bahkan lupa kepedulian terhadap sesama. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan, “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).
Ust. Muchamad Arifin kemudian mengajak jamaah merenungi filosofi pohon bambu. Bambu tidak tumbuh kokoh secara instan. Bertahun-tahun ia membangun kekuatan akarnya di dalam tanah, sebelum akhirnya mampu berdiri tegak, lentur menghadapi angin, dan tidak mudah patah. Begitulah iman. Ia tumbuh melalui proses, kesungguhan, dan kedisiplinan menjaga waktu, bukan melalui jalan pintas.
Allah memberikan perumpamaan iman yang kuat seperti pohon yang baik. “Perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit, menghasilkan buah setiap waktu dengan izin Tuhannya.” (QS. Ibrahim: 24–25). Iman yang akarnya tertanam kuat dalam hati tidak akan mudah goyah oleh derasnya arus teknologi dan perubahan zaman.
Kajian ini menegaskan bahwa dunia boleh bergerak serba instan, tetapi iman tidak pernah tumbuh secara instan. Ia perlu dirawat dengan shalat, dzikir, ilmu, serta penggunaan waktu yang bijak. Allah mengingatkan bahwa setiap anggota tubuh akan dimintai pertanggungjawaban, “Pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36).
Kajian ditutup dengan doa penuh harap agar Allah membimbing jamaah dalam menjaga waktu, menghidupkan iman, dan menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia. Suasana masjid terasa hening dan menyentuh, seolah menjadi pengingat bersama bahwa teknologi seharusnya menjadi alat kebaikan, bukan tuan yang menguasai hati dan kehidupan.