LENSADAKWAH.COM. Probolinggo — Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, suasana Kajian Ahad Pagi di Graha Ahmad Dahlan, Pusat Dakwah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Probolinggo, Ahad (1 Februari 2026), berlangsung khidmat dan penuh makna. Ratusan jamaah yang terdiri dari jajaran pimpinan Muhammadiyah, majelis, unsur ‘Aisyiyah, perwakilan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta masyarakat umum tampak memadati gedung dakwah sejak pagi hari.

Kajian tersebut menghadirkan Ustadz Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dalam kajiannya, Ustadz Arifin mengajak jamaah mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan menata kembali arah hidup, khususnya di tengah derasnya arus teknologi dan informasi digital yang kian tak terbendung.
Menurutnya, Ramadhan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga saat terbaik untuk menguatkan iman dan mengendalikan diri. Tanpa pondasi iman yang kokoh, perkembangan teknologi justru berpotensi merusak tatanan kehidupan, layaknya banjir besar yang menghabiskan segala yang dilaluinya. Karena itu, umat Islam dituntut untuk mampu menempatkan teknologi sebagai sarana, bukan tujuan.
Kajian berlangsung hidup dan inspiratif. Penyampaian materi yang dipadukan dengan multimedia menghadirkan ilustrasi serta cerita-cerita unik yang dekat dengan realitas keseharian jamaah. Metode ini membuat pesan kajian lebih mudah dipahami sekaligus menggugah kesadaran jamaah akan pentingnya sikap bijak dalam menggunakan media digital, terlebih menjelang Ramadhan.

Di sela kajian, Ustadz Arifin juga membagikan kisah perjalanan dakwahnya di berbagai daerah pedalaman. Cerita tentang keterbatasan sarana, tantangan medan, hingga ketulusan masyarakat setempat menjadi penguat pesan bahwa dakwah membutuhkan kesungguhan, ketahanan, dan semangat amar makruf nahi munkar yang terus menyala, di mana pun berada.
Ustadz Arifin menegaskan kepada jamaah bahwa teknologi pada hakikatnya hanyalah alat. Baik atau buruk dampaknya sangat bergantung pada cara manusia menggunakannya. Menyambut Ramadhan, ia mengajak jamaah menjadikan teknologi sebagai sarana memperbanyak amal, memperluas dakwah, serta memperkuat ukhuwah, bukan sebaliknya menjadi sumber kelalaian.
Melalui Kajian Ahad Pagi ini, jamaah diajak untuk lebih waspada terhadap pengaruh negatif media online sekaligus memanfaatkan teknologi secara positif dan bernilai ibadah. Semangat menyambut Ramadhan pun terasa kian kuat, dengan harapan bulan suci menjadi momentum perubahan menuju kehidupan yang lebih terarah, bermakna, dan diridhai Allah SWT.