SURABAYA. Lensadakwah.com – Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti pelaksanaan shalat tarawih perdana. Selasa, 17 Pebruari 2026 di Masjid Attaqwa Pogot yang beralamat di Jalan Pogot No. 1–3, Kecamatan Kenjeran, Surabaya. Masjid dua lantai dengan kapasitas sekitar 800 jamaah itu dipenuhi lautan manusia hingga meluber ke area luar. Jamaah dari berbagai penjuru sekitar masjid datang dengan semangat yang sama: menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih dan harapan akan ampunan Allah SWT.

Pemandangan ini bukan sekadar keramaian, tetapi cermin kerinduan umat kepada rumah Allah. Langkah-langkah yang bergegas menuju saf, sajadah yang terhampar rapat, serta doa-doa yang terangkat bersama menjadi tanda bahwa Ramadhan selalu menghadirkan energi spiritual yang luar biasa.
Ketua Takmir, Ustadz Muchamad Arifin, dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf kepada jamaah atas kondisi yang penuh sesak. Ia mengakui, membludaknya jamaah di luar perkiraan. “Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Namun kami juga mengucapkan terima kasih atas kepercayaan jamaah kepada Masjid Attaqwa. Ini adalah amanah besar bagi kami untuk terus meningkatkan pelayanan,” tuturnya dengan hangat.
Menurutnya, membludaknya jamaah pada tarawih perdana adalah pertanda baik—bahwa masjid tetap menjadi pusat kebersamaan, tempat umat mencari ketenangan, dan ruang bertumbuhnya iman. Kepercayaan masyarakat kepada Masjid Attaqwa menjadi motivasi bagi pengurus untuk menjaga kenyamanan, kekhusyukan, dan kualitas ibadah di hari-hari berikutnya.
Dalam renungannya, Ustadz Arifin yang akrab disapa Ustadz Arifin itu juga mengingatkan agar semangat tarawih tidak berhenti di malam pertama. “Jangan hanya ramai di awal Ramadhan. Mari kita istiqamah hingga akhir. Karena Rasulullah SAW menjanjikan, siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan penuh harap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” pesannya.
Tarawih pertama di Masjid Attaqwa Pogot bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga pengingat bahwa Ramadhan adalah perjalanan panjang menuju ampunan. Saf yang rapat malam itu seakan menjadi simbol: jika hati-hati bersatu dalam ketaatan, maka rahmat Allah akan turun lebih luas dari daya tampung bangunan masjid.
Ramadhan baru saja dimulai. Namun malam pertama telah memberi pesan mendalam—bahwa rumah Allah selalu cukup luas untuk menampung harapan, tobat, dan doa-doa hamba-Nya. Kini, yang dibutuhkan adalah menjaga nyala semangat itu tetap hidup hingga akhir, hingga benar-benar meraih kemenangan yang dijanjikan.