Malaka, 10 Agustus 2026 – Sebuah perjalanan tidak selalu tentang berpindah tempat. Ada kalanya perjalanan menjadi ruang untuk belajar, membuka wawasan, dan menemukan pesan-pesan kehidupan yang tidak selalu diperoleh di dalam ruang kelas.

Semangat itulah yang mewarnai kunjungan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur ke Kota Melaka, Malaysia, Senin (10/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari wisata religius berbasis moderasi beragama yang dikemas sebagai ruang pembelajaran untuk memahami keberagaman, menghargai perbedaan, sekaligus memperkuat semangat hidup berdampingan secara damai.
Melaka dipilih bukan sekadar karena memiliki daya tarik wisata, tetapi juga karena kota ini menyimpan perjalanan sejarah yang panjang. Berbagai jejak peradaban yang masih terawat hingga kini menjadi pengingat bahwa kehidupan masyarakat selalu tumbuh melalui proses perjumpaan, interaksi, dan saling mengenal.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan FKPT Jawa Timur menyempatkan diri menyusuri sejumlah kawasan bersejarah di Melaka, termasuk kawasan kota tua yang menjadi salah satu pusat sejarah dan kebudayaan kota tersebut.
Bagi rombongan, perjalanan ini menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana sejarah dapat menjadi media pembelajaran tentang keberagaman. Dari jejak masa lalu, terdapat pesan penting bahwa perbedaan merupakan bagian dari perjalanan kehidupan manusia yang perlu disikapi dengan bijaksana.
Ketua FKPT Jawa Timur, Prof. Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati, M.Ag., menyampaikan bahwa wisata religius berbasis keberagaman tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas wawasan sekaligus menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya hidup berdampingan.
Menurutnya, keberagaman tidak semestinya menjadi sumber jarak dan kecurigaan. Sebaliknya, perjumpaan dengan lingkungan yang beragam dapat menjadi kesempatan untuk belajar mengenal, memahami, dan menghormati satu sama lain.
“Kunjungan ini sekaligus menjadi wisata religius keberagaman sebagai wujud untuk melihat indahnya hidup berdampingan. Kita belajar untuk saling mengenal, menghormati, dan membangun kehidupan yang penuh kedamaian,” ungkapnya.
Ia menambahkan, semangat moderasi beragama perlu terus dihadirkan dalam kehidupan nyata. Moderasi bukan hanya menjadi gagasan yang dibicarakan, tetapi harus tercermin dalam sikap sehari-hari, terutama dalam menghadapi perbedaan yang ada di tengah masyarakat.
Perjalanan ke Melaka pun menjadi ruang refleksi bahwa untuk hidup damai, seseorang tidak harus menghilangkan perbedaan. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menempatkan perbedaan secara proporsional, menjaga sikap saling menghormati, dan membangun komunikasi yang sehat.
Dalam konteks pencegahan terorisme, perspektif tersebut menjadi penting. Masyarakat yang terbiasa mengenal dan menghargai keberagaman akan memiliki modal sosial yang lebih kuat untuk menghadapi berbagai narasi yang berpotensi memecah belah.
Karena itu, wisata religius berbasis moderasi yang dilakukan FKPT Jawa Timur tidak berhenti pada aktivitas kunjungan. Ada pesan yang lebih dalam: membangun perdamaian dapat dimulai dari perjumpaan sederhana, dari kemauan untuk mengenal orang lain, memahami perbedaan, dan menghormati kehidupan bersama.
Melaka akhirnya bukan hanya menjadi tempat yang dikunjungi, tetapi juga ruang untuk mengambil pelajaran.
Dari Melaka, FKPT Jawa Timur belajar bahwa keberagaman bukan sesuatu yang harus ditakuti. Keberagaman adalah kenyataan kehidupan yang perlu dirawat dengan sikap saling mengenal, saling menghormati, dan membangun toleransi.
Sebab, ketika perbedaan dipahami dengan bijak, ia tidak menjadi sumber perpecahan. Justru dari sanalah dapat tumbuh persaudaraan, kedamaian, dan kehidupan yang lebih harmonis.
Perjalanan ini menjadi bagian dari ikhtiar FKPT Jawa Timur untuk terus memperkuat wawasan moderasi beragama sekaligus membangun ketahanan masyarakat melalui nilai-nilai toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, dan semangat hidup berdampingan.
Dari Melaka, sebuah pesan sederhana dibawa pulang: mengenal melahirkan pemahaman, pemahaman menumbuhkan penghormatan, dan penghormatan membuka jalan menuju perdamaian. Arifin




