JAKARTA — Pencegahan radikalisme di kalangan remaja tidak cukup dilakukan dengan membatasi akses terhadap konten negatif. Penguatan ketahanan keluarga dan literasi digital menjadi langkah penting untuk membangun generasi muda yang tangguh, kritis, dan tidak mudah terpengaruh narasi kekerasan di ruang digital.

Pesan tersebut mengemuka dalam Rapat Monitoring, Evaluasi, dan Persiapan Kerja Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Tahun 2026 yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Rabu (7/10/2026). Dalam forum tersebut, FKPT Jawa Timur diwakili oleh Prof. Mutimmatul Faidah.
Ia menekankan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam membentuk karakter, kemampuan berpikir kritis, serta ketahanan psikososial remaja. Karena itu, hubungan yang dekat antara orang tua dan anak, komunikasi yang sehat, serta pendampingan yang berkelanjutan menjadi fondasi penting dalam mencegah masuknya pengaruh ideologi kekerasan.
“Penguatan ketahanan keluarga perlu berjalan beriringan dengan literasi digital. Remaja tidak cukup hanya diarahkan untuk menjauhi konten negatif, tetapi perlu didampingi agar mampu mengenali, menyaring, dan mengkritisi informasi yang mereka temui di ruang digital,” ujar Mutimmatul Faidah.
Perhatian terhadap persoalan ini semakin penting seiring berkembangnya pola penyebaran narasi radikalisme melalui berbagai platform digital. Dalam arahannya, Kepala BNPT Edy Hartono menyoroti pergeseran penyebaran radikalisme ke ruang digital serta meningkatnya perhatian terhadap anak dan remaja yang terpapar narasi ekstrem. Kasus di lingkungan sekolah menengah atas menjadi pengingat bahwa paparan digital perlu diantisipasi melalui pendampingan, pendidikan karakter, dan penguatan lingkungan sosial yang sehat.
Bagi FKPT Jawa Timur, pencegahan radikalisme bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah atau aparat penegak hukum. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan keluarga, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, komunitas pemuda, dan seluruh unsur masyarakat. Masing-masing memiliki peran dalam menghadirkan lingkungan yang aman, membangun budaya dialog, serta membekali generasi muda dengan kemampuan menyikapi perbedaan dan menyaring informasi secara bijak.
Melalui penguatan literasi digital, orang tua dan pendidik diharapkan tidak hanya menjadi pengawas, tetapi juga teman dialog bagi remaja. Dengan demikian, anak-anak muda memiliki ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan memperoleh pemahaman yang benar tanpa harus mencari jawaban dari sumber-sumber yang menyesatkan.
Rapat monitoring, evaluasi, dan persiapan kerja tersebut menjadi momentum bagi FKPT Jawa Timur untuk terus memperkuat strategi pencegahan yang kolaboratif dan berkelanjutan. Ketahanan keluarga, pendidikan yang mencerahkan, kepedulian masyarakat, dan kecakapan digital perlu berjalan beriringan agar generasi muda tumbuh dengan karakter yang kuat serta semangat kebangsaan yang kokoh.
Sebab, benteng terbaik bagi generasi muda bukan sekadar menjauhkan mereka dari pengaruh negatif, melainkan membekali mereka dengan kasih sayang keluarga, kejernihan berpikir, dan kemampuan memilih jalan yang benar di tengah derasnya arus informasi.
#FKPTJawaTimur #BNPT #PencegahanRadikalisme #KetahananKeluarga #LiterasiDigital #CegahRadikalisme #GenerasiMuda




