
Muchamad Arifin – Dai Komunitas
LENSADAKWAH.COM – Ramadhan adalah bulan latihan. Latihan menahan lapar, menahan dahaga, menahan amarah, dan menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi nilai ibadah. Kita berusaha menjaga lisan, memperbanyak doa, dan memperbaiki akhlak. Namun di era digital, ada satu hal yang sering tidak terasa ikut menguji kualitas puasa kita: kebiasaan membagikan informasi tanpa memastikan kebenarannya.
Hari ini, informasi datang begitu cepat. Pesan berantai, potongan video, kutipan tokoh, berita yang menghebohkan—semuanya hadir silih berganti di layar ponsel kita. Kadang isinya membuat kita terkejut, marah, sedih, atau bahkan merasa terpanggil untuk segera membagikannya. Niatnya mungkin baik. Ingin mengingatkan. Ingin memberi tahu. Ingin peduli.
Namun di situlah letak ujiannya.
Allah ﷻ telah memberi panduan yang sangat jelas dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini mengajarkan tabayyun—memeriksa dan memastikan sebelum menyimpulkan atau menyebarkan. Bukan karena kita suka curiga, tetapi karena kita tidak ingin menyesal. Betapa banyak kabar yang ternyata tidak utuh. Betapa banyak berita yang dipotong, dibelokkan, atau bahkan sepenuhnya tidak benar.
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta ketika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Hadis ini begitu relevan di zaman media sosial. Tidak semua yang kita terima harus kita teruskan. Tidak semua yang viral harus kita bagikan. Kadang, kehati-hatian justru lebih bernilai di sisi Allah daripada kecepatan.
Ramadhan seharusnya membuat kita lebih tenang, bukan lebih tergesa-gesa. Lebih jernih, bukan lebih reaktif. Jangan sampai kita begitu khusyuk menahan lapar, tetapi lalai menjaga informasi yang keluar dari jemari kita. Karena setiap tulisan, setiap unggahan, setiap tombol “bagikan” adalah bagian dari amal.
Kita mungkin tidak berniat menyebarkan hoaks. Bisa jadi kita hanya kurang waktu untuk memeriksa. Bisa jadi kita terlalu cepat percaya karena berita itu sesuai dengan perasaan atau pandangan kita. Tetapi Ramadhan hadir untuk menguatkan kesadaran: bahwa kebaikan tidak hanya dinilai dari niat, melainkan juga dari dampaknya.
Menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya bisa melukai orang lain, memicu salah paham, bahkan merusak persaudaraan. Dan jika itu terjadi, bukankah kita justru sedang mengurangi nilai ibadah yang sedang kita bangun dengan susah payah?
Karena itu, sebelum membagikan sesuatu, mari sejenak bertanya dalam hati: Apakah ini benar?, Apakah sumbernya jelas?, Apakah manfaatnya lebih besar daripada mudaratnya?
Jika masih ragu, menahan diri adalah pilihan yang lebih aman. Diam dalam kehati-hatian sering kali lebih mulia daripada aktif dalam ketergesa-gesaan.
Ramadhan adalah momentum memperhalus nurani. Bukan hanya memperbanyak ibadah ritual, tetapi juga memperbaiki cara kita berinteraksi—termasuk di ruang digital. Semoga kita tidak termasuk orang yang rajin berpuasa, tetapi pahala puasanya terkikis karena kelalaian dalam berbagi informasi.
Mari jadikan media sosial sebagai ladang pahala: menyebarkan kebenaran yang jelas, kabar yang menenangkan, dan pesan yang menguatkan. Agar puasa kita bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi benar-benar mengantarkan kita pada derajat takwa.
Semoga Allah ﷻ menjaga lisan dan jemari kita, serta menerima seluruh amal Ramadhan kita. Aamiin.