MERAUKE. lensadakwah.com – Perjalanan dakwah itu membawa saya jauh, hingga ke ujung timur Indonesia, di sebuah kampung sederhana di Merauke. Di tempat yang mungkin bagi sebagian orang terasa jauh dari hiruk pikuk peradaban, justru saya menemukan kedekatan yang begitu dalam dengan makna kehidupan.

Saat menyusuri deretan rumah yang berdiri sederhana, mata saya tertuju pada seorang lelaki yang tengah menimbang hasil tangkapannya. Seekor ikan besar tergantung di timbangan sederhana—hasil dari usaha yang ia lakukan di rawa-rawa yang membentang di antara hutan di sekitarnya.
Saya mendekat. Ia menoleh. Dan senyum itu—begitu tulus, tanpa beban.
Tidak ada keluhan yang keluar dari lisannya. Tidak ada raut lelah yang dipamerkan. Yang ada hanyalah ketenangan. Sebuah ketenangan yang lahir dari penerimaan, dari keikhlasan, dari hidup yang dijalani apa adanya.
Di momen itu, saya tersadar—bahwa selama ini kita sering memahami syukur hanya sebatas ucapan. Padahal di hadapan saya, berdiri seseorang yang mungkin tidak banyak berkata tentang syukur, tetapi seluruh hidupnya adalah wujud syukur itu sendiri.
Ia bekerja dengan tangannya, menikmati hasilnya dengan lapang dada, dan menjalani hari-harinya tanpa banyak tuntutan. Tidak ada yang berlebihan, tetapi juga tidak ada yang terasa kurang.
Ramadan kali ini menjadi perjalanan yang sangat berbeda bagi saya. Saya datang dengan niat berdakwah, menyampaikan nilai-nilai kebaikan. Namun justru di tempat ini, di Papua Selatan, saya merasa menjadi murid—belajar dari kehidupan yang jujur dan apa adanya.
Saya belajar bahwa dakwah tidak selalu tentang kata-kata.
Ia bisa hadir dalam perjumpaan, dalam senyuman, dalam kesederhanaan hidup yang mengajarkan banyak hal tanpa perlu ceramah panjang.
Subhanallah…
Perjalanan ini bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, tetapi tentang hati yang disentuh.
Dan saya pun pulang dengan kesadaran baru:
bahwa terkadang, di tempat yang paling jauh, Allah justru menghadirkan pelajaran yang paling dekat dengan makna kehidupan.





