LENSADAKWAH. COM – Menjadi imam dalam shalat bukan hanya soal memiliki suara yang merdu, tetapi yang lebih utama adalah bacaan yang benar sesuai dengan tajwid dan makhraj huruf.

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa yang berhak menjadi imam adalah orang yang paling baik bacaannya terhadap Al-Qur’an. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
يَؤُمُّ القَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ
“Yang menjadi imam bagi suatu kaum adalah yang paling baik bacaannya terhadap Kitabullah (Al-Qur’an).” (HR. Muslim, no. 673)
Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas bacaan lebih utama dibanding sekadar keindahan suara. Sebab, dalam shalat, bacaan yang salah bisa berakibat fatal, terutama dalam membaca Al-Fatihah. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَإْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (HR. Bukhari, no. 756; Muslim, no. 394)
Jika seseorang melakukan kesalahan dalam bacaan Al-Fatihah yang mengubah makna, shalatnya bisa menjadi tidak sempurna, bahkan batal karena merubah arti. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya membaca Al-Qur’an dengan benar, bukan sekadar indah didengar.
Dalam Al-Qur’an, Allah juga memerintahkan agar Al-Qur’an dibaca dengan tartil, sebagaimana firman-Nya:
وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًۭا
“Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil (perlahan dan benar).” (QS. Al-Muzzammil: 4)
Dari ayat ini, kita dapat memahami bahwa membaca Al-Qur’an bukan hanya soal melantunkannya dengan suara merdu, tetapi juga memastikan bahwa setiap huruf dan harakat diucapkan dengan benar. Oleh karena itu, seseorang yang hendak menjadi imam harus lebih mengutamakan ketepatan bacaannya daripada sekadar keindahan suara.
Misalnya: Kesalahan dalam membaca “اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ” dengan mengucapkan huruf ص (ṣād) sebagai س (sīn) memang bisa mengubah arti, karena dalam bahasa Arab, “الصِّرَاطَ” (ash-shirāṭa) dengan ṣād memiliki makna yang berbeda dengan “السِّرَاطَ” (as-sirāṭa) dengan sīn.
Dalam bahasa Arab, kata “الصِّرَاطَ” dengan huruf ṣād berarti “jalan yang lurus,” yang sesuai dengan makna dalam ayat ini, yaitu jalan yang benar yang harus diikuti oleh kaum Muslimin. Sementara itu, jika dibaca dengan س (sīn) menjadi “السِّرَاطَ”, maka dalam beberapa dialek Arab, kata ini dapat bermakna “tali” atau sesuatu yang berbeda dari makna aslinya.
Melalui tulisan ini, semoga kita semua diberikan perunjuk oleh Allah untuk bisa membaca Al Qur’an dengan benar dan fasih.