Beranda / News / MUDIK JADI KENANGAN, RAMADAN JADI PIJAKAN

MUDIK JADI KENANGAN, RAMADAN JADI PIJAKAN

SURABAYA. Lensadakwah.com – Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di Masjid Attaqwa Pogot Surabaya pada Rabu pagi (1/4/2026), saat jamaah berkumpul dalam kegiatan silaturahim Idul Fitri 1447 H yang dirangkai dengan kajian keislaman pasca-Ramadan. Momentum ini menjadi ruang refleksi, tidak hanya tentang kebahagiaan mudik, tetapi juga tentang bagaimana menjaga ruh ibadah setelah Ramadan berlalu.

Dalam tausiyahnya, Muchamad Arifin mengangkat tema yang menggugah: “Mudik Jadi Kenangan, Ramadan Jadi Pijakan.” Ia mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada euforia Ramadan dan Idul Fitri semata, melainkan menjadikannya sebagai titik awal perubahan diri yang berkelanjutan.

“Ramadan telah melatih kita dalam kebaikan—shalat berjamaah, tilawah, sedekah, dan menjaga akhlak. Maka tugas kita hari ini adalah memindahkan semua kebaikan itu ke bulan-bulan berikutnya,” ungkapnya dengan penuh penekanan.

Menurutnya, mudik memang menjadi momen yang penuh kenangan—bertemu keluarga, melepas rindu, dan mempererat silaturahim. Namun, yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Ramadan tetap hidup dalam keseharian. “Mudik boleh jadi kenangan, tetapi Ramadan harus menjadi pijakan,” tambahnya.

Kajian yang berlangsung khidmat tersebut kemudian ditutup dengan suasana penuh kehangatan. Para jamaah duduk bersama menikmati hidangan ketupat, saling berbagi senyum dan sapa, serta menguatkan kembali tali persaudaraan. Ucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin, taqabbalallahu minna wa minkum” menggema, menjadi penutup yang indah sekaligus pengingat akan pentingnya saling memaafkan.

Kegiatan ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi menjadi pengingat bahwa perjalanan spiritual seorang muslim tidak berhenti di penghujung Ramadan. Justru, dari sinilah langkah baru dimulai—melangkah dengan hati yang lebih bersih, iman yang lebih kuat, dan komitmen untuk terus istiqamah dalam kebaikan.

Tag: