LENSADAKWAH.COM, SURABAYA – Belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Alam pun bisa menjadi guru, pengalaman menjadi pelajaran, dan perjumpaan dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia menjadi pintu untuk mengenal kehidupan yang lebih luas.

Suasana itulah yang terasa di Ekowisata Mangrove Gunung Anyar, Surabaya, Sabtu (31/10). Melalui program Faith to Field: Beyond Borders, para siswa English Student Club (ESC) SD Muhammadiyah 10 Surabaya diajak menikmati pengalaman belajar yang berbeda. Mereka tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi juga mengenal alam, menumbuhkan kepedulian lingkungan, dan membangun keberanian untuk berinteraksi dalam suasana global.
Di antara rimbunnya pepohonan mangrove dan semilir udara pesisir, anak-anak diajak menyusuri jalur ekowisata sambil mengenal sejarah kawasan tersebut, para perintisnya, serta beragam vegetasi dan fauna yang hidup di dalamnya. Mereka belajar bahwa mangrove bukan sekadar kumpulan pepohonan di tepi pantai, melainkan ekosistem penting yang menjaga keseimbangan lingkungan, melindungi pesisir dari abrasi, dan menjadi habitat berbagai makhluk hidup.
Pengalaman itu semakin bermakna ketika para siswa turun langsung menanam bibit mangrove. Tangan-tangan kecil mereka menyentuh lumpur, menanam harapan, sekaligus belajar bahwa menjaga bumi bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata yang harus dimulai sejak dini.
Inilah pesan yang ingin ditanamkan melalui Faith to Field: iman harus menghadirkan kepedulian, pengetahuan harus melahirkan tindakan, dan pendidikan harus memberikan pengalaman yang bermakna bagi kehidupan.
Belajar Bahasa Inggris Bersama Dunia
Keseruan belajar semakin terasa dengan kehadiran Grady Ryan Mitchell, M.Li., native speaker asal Los Angeles, Amerika Serikat, yang juga aktif sebagai dosen di salah satu universitas negeri. Dengan pendekatan komunikatif dan suasana santai, Grady mengajak siswa mempraktikkan percakapan bahasa Inggris melalui materi Greetings dan What Are You Wearing Today?
Berada di tengah alam terbuka membuat proses belajar terasa lebih hidup. Anak-anak diajak menyapa, menjawab pertanyaan, serta mendeskripsikan pakaian yang mereka kenakan. Bahasa Inggris tidak lagi sekadar deretan kosakata dalam buku pelajaran, tetapi menjadi alat komunikasi yang dipraktikkan secara langsung.
Pengalaman lintas negara juga hadir melalui Ahmed Jelassi, mahasiswa asal Tunisia. Ia mengajak para siswa memahami pentingnya bahasa Inggris sebagai jembatan untuk mengenal dunia, menjelajahi ruang digital, membangun komunikasi lintas budaya, hingga membuka peluang masa depan.
Ahmed juga memberikan pesan sederhana yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Menurutnya, belajar bahasa Inggris tidak harus selalu dilakukan di sekolah. Mereka dapat membiasakan diri melalui lagu kesukaan, tayangan kartun, maupun film yang disukai.
Pesan tersebut memberikan pemahaman bahwa kemampuan berbahasa tumbuh melalui kebiasaan, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus belajar.
Dari Pengalaman Menjadi Inspirasi Masa Depan
Kegiatan semakin meriah ketika para tutor ESC mengajak siswa mengikuti berbagai permainan interaktif. Gelak tawa, kebersamaan, dan semangat berkompetisi menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus memperkuat keberanian anak-anak menggunakan bahasa Inggris.
Setelah menjalani rangkaian aktivitas edukatif, para siswa juga menikmati fasilitas playground dan terapi ikan yang menambah kesan menyenangkan dalam petualangan mereka di kawasan mangrove.
Menjelang siang, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan salat Zuhur berjamaah. Penutup ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan pikiran, tetapi juga membangun karakter dan memperkuat nilai-nilai keimanan.
Melalui Faith to Field: Beyond Borders, ESC SD Muhammadiyah 10 Surabaya menghadirkan pesan bahwa anak-anak perlu tumbuh dengan akar keimanan yang kuat, kepedulian terhadap lingkungan, serta keberanian untuk melangkah melampaui batas.
Sebab, generasi masa depan bukan hanya mereka yang pandai menjawab soal di ruang kelas, tetapi juga mereka yang mampu berkomunikasi dengan dunia, menghargai alam, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.
Penulis: Rachella FA
Editor: M. Khoirul A




