SURABAYA – Menjadi pendakwah tidak harus berdiri di atas mimbar dengan ribuan jamaah di hadapan. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berdakwah sesuai keahlian, kemampuan, dan ruang pengabdian masing-masing. Pesan inilah yang mengemuka dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Annur, Jalan Simolawang II/75 B, Surabaya, Ahad, 18 Oktober 2026.

Kajian yang menghadirkan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muchamad Arifin, tersebut mengajak jamaah untuk memperluas cara pandang tentang dakwah. Dakwah bukan semata-mata aktivitas berbicara di depan umum, melainkan upaya menghadirkan kebaikan, memberikan manfaat, dan menyentuh kehidupan masyarakat melalui berbagai bidang keahlian.
Dalam pemaparannya, Ustad Muchamad Arifin menegaskan bahwa setiap orang memiliki peluang untuk menjadi pendakwah. Seorang guru dapat berdakwah melalui pendidikan, seorang tenaga kesehatan melalui pelayanan kemanusiaan, seorang pengusaha melalui pemberdayaan ekonomi, dan pengguna media sosial melalui konten yang mencerahkan.
“Menjadi pendakwah tidak harus selalu tampil di mimbar. Berdakwahlah sesuai kemampuan dan keahlian kita. Di mana pun berada, selalu ada kesempatan untuk menghadirkan kebaikan dan memberi manfaat bagi sesama,” demikian pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.
Ia juga mengajak jamaah untuk melihat dakwah dari sisi pengabdian yang lebih luas, terutama dengan hadir di tengah komunitas marginal, masyarakat adat, serta masyarakat di wilayah terpencil dan pedalaman yang belum banyak tersentuh pelayanan dakwah.
Menurutnya, perjalanan dakwah tidak selalu berlangsung di tempat yang ramai atau menjadi perhatian publik. Ada perjuangan panjang yang berlangsung jauh dari sorotan media, tetapi memberikan arti besar bagi kehidupan masyarakat. Justru di ruang-ruang pengabdian seperti itulah, dakwah dapat dirasakan secara nyata melalui pendampingan, pemberdayaan, pendidikan, dan kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.
Kisah-kisah perjalanan dakwah di komunitas marginal dan wilayah pedalaman yang ditampilkan melalui materi presentasi menjadi bagian menarik dalam kajian pagi itu. Pengalaman tersebut membuka wawasan jamaah bahwa dakwah bukan hanya tentang menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga tentang kesediaan untuk hadir, membaur, mendengarkan, dan berjalan bersama masyarakat.
Kisah-kisah tersebut sekaligus menjadi sumber inspirasi bahwa keberhasilan dakwah tidak semata-mata diukur dari banyaknya jamaah yang hadir atau luasnya perhatian media. Lebih dari itu, dakwah menemukan maknanya ketika mampu menumbuhkan harapan, memperkuat kemandirian, dan menghadirkan perubahan yang baik dalam kehidupan masyarakat.
Warga Net, Ruang Dakwah Masa Kini
Di tengah perkembangan teknologi informasi, Ustad Muchamad Arifin juga menyoroti besarnya peluang dakwah melalui media sosial. Kehadiran warga net sebagai bagian dari kehidupan masyarakat digital merupakan ruang strategis yang perlu dimanfaatkan secara bijak dan kreatif.
Menurutnya, ruang digital tidak seharusnya hanya dipenuhi perdebatan, informasi yang menyesatkan, atau konten yang kurang bermanfaat. Sebaliknya, media sosial dapat menjadi sarana menyebarkan ilmu, menebarkan kedamaian, membangun kepedulian sosial, dan menyampaikan pesan-pesan Islam yang mencerahkan.
Setiap orang dapat mengambil peran sesuai kemampuannya. Mereka yang pandai menulis dapat menyampaikan gagasan melalui artikel, mereka yang terampil berbicara dapat membuat video edukatif, sedangkan mereka yang memiliki kemampuan desain dapat menghadirkan pesan dakwah melalui gambar dan infografis yang menarik.
Dengan demikian, berdakwah di era digital tidak selalu menuntut seseorang menjadi penceramah. Yang diperlukan adalah kemauan untuk menghadirkan pesan yang benar, menyejukkan, dan membawa manfaat bagi orang lain.
Kajian Ahad Pagi di Masjid Annur ini menjadi pengingat bahwa panggilan dakwah sesungguhnya terbuka bagi siapa saja. Tidak harus menunggu terkenal, memiliki banyak pengikut, atau mendapatkan panggung besar. Dakwah dapat dimulai dari lingkungan terdekat, profesi yang dijalani, komunitas tempat beraktivitas, hingga ruang digital yang setiap hari diakses jutaan orang.
Sebab, dakwah bukan sekadar tentang seberapa banyak orang mendengarkan kita, melainkan seberapa besar kebaikan yang dapat dirasakan orang lain melalui kehadiran kita.
#KajianAhadPagi
#MasjidAnnurSurabaya
#DakwahTakHarusDiMimbar
#LDKP Muhammadiyah
#MuchamadArifin
#DakwahKomunitas
#DakwahMasyarakatMarginal
#DakwahPedalaman
#DakwahDigital
#WargaNetBerdakwah
#DakwahMencerahkan
#IslamBerkemajuan





