LENSADAKWAH.COM. Semarang – Di banyak sudut negeri, dakwah tidak selalu berlangsung di mimbar megah atau aula berpendingin udara. Ia justru hadir di wilayah terpencil, di balik tembok lembaga pemasyarakatan, di komunitas mualaf, hingga di ruang-ruang digital yang sunyi dari sentuhan keagamaan. Di ruang-ruang inilah Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjejakkan langkahnya.

Ketua LDK PP Muhammadiyah, Muchamad Arifin, menegaskan bahwa sepanjang periode 2024–2025, dakwah komunitas Muhammadiyah terus menunjukkan penguatan yang signifikan. Dakwah komunitas kini menjadi salah satu instrumen strategis Muhammadiyah karena kemampuannya hadir langsung di ruang-ruang sosial yang selama ini relatif minim pendampingan keagamaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Arifin dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas II) LDK PP Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Kamis (29/1/2026).
Di hadapan peserta Rakornas, Arifin mengungkapkan bahwa saat ini LDK PP Muhammadiyah mengelola dan membina 26 segmen dakwah komunitas yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dari kerja kolektif tersebut, tercatat sebanyak 1.594 dai aktif yang mendampingi 933 titik dakwah.
“Secara nasional, dakwah komunitas LDK telah melayani 42.097 jamaah, yang terdiri atas 23.160 jamaah laki-laki dan 18.937 jamaah perempuan,” ujarnya.
Namun demikian, menurut Arifin, kekuatan dakwah komunitas tidak semata-mata terletak pada capaian angka. Lebih dari itu, dakwah komunitas merupakan wujud keberanian Muhammadiyah untuk menjangkau kelompok-kelompok masyarakat yang kerap berada di pinggiran perhatian. Dakwah LDK tidak hanya bergerak di ruang publik arus utama, tetapi juga masuk ke komunitas dengan tingkat kerentanan sosial yang tinggi.
Sasaran dakwah tersebut meliputi wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), komunitas mualaf, masyarakat adat terpencil, penyandang disabilitas, warga binaan lembaga pemasyarakatan, mantan pecandu narkoba, hingga penguatan peran dai digital Muhammadiyah di ruang maya.
“Dakwah komunitas adalah dakwah yang hadir, bukan menunggu. Ia menjumpai umat di tempat mereka berada, dengan pendekatan yang empatik dan kontekstual,” tegasnya.
Kehadiran dai Muhammadiyah di wilayah 3T menjadi salah satu wajah nyata dakwah berkeadilan. Hingga kini, dai LDK tercatat aktif di lebih dari 180 lokasi dakwah 3T, mulai dari Aceh hingga Papua. Mereka bertugas di wilayah kepulauan, kawasan pegunungan, hingga daerah perbatasan negara, sering kali di tengah keterbatasan akses dan fasilitas.
“Ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan keberpihakan Muhammadiyah kepada mereka yang paling membutuhkan pendampingan dakwah,” ungkap Arifin.
Ia menambahkan, Rakornas II LDK PP Muhammadiyah menjadi momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi dakwah komunitas agar semakin terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Penguatan sistem, jejaring dai, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar dakwah tidak berhenti sebagai kegiatan rutin, melainkan benar-benar menghadirkan dampak nyata bagi umat.
“Dakwah komunitas Muhammadiyah harus terus tumbuh sebagai dakwah yang membebaskan, memberdayakan, dan memberi harapan,” pungkasnya.
Dari titik-titik kecil dakwah itulah, Muhammadiyah terus menyalakan cahaya—pelan, dekat, dan menguatkan umat di mana pun mereka berada.
Penulis: M. Khoirul Anam, Divisi Dai Digital LDK PP Muhammadiyah