MERAUKE. Lensadakwah.com – Di ujung Timur negeri ini, di tanah Merauke yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini, saya tidak hanya menempuh perjalanan dakwah—tetapi juga menyaksikan ayat Allah hidup di hadapan mata.

Perjalanan panjang dari Surabaya, dengan segala letih, lapar, dan dahaga di bulan Ramadan 1447 H, seakan menjadi jalan untuk sampai pada satu pelajaran yang tak ternilai. Ketika anak-anak kecil itu berlari menyambut dengan senyum tulus, saya tersadar—bahwa di sinilah makna firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 benar-benar terasa nyata.
Hari ini, saya seakan menyaksikan langsung bagaimana Allah menciptakan manusia dari satu asal, lalu menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dengan beragam warna kulit, bahasa, dan cara hidup. Namun di balik semua perbedaan itu, ada satu kesamaan yang menyatukan: hati yang ingin mengenal, menerima, dan memuliakan sesama.
Di kampung kecil di perbatasan ini, anak-anak dengan kulit gelap, senyum cerah, dan mata yang berbinar, menyambut saya yang datang dari jauh tanpa sekat. Mereka tidak bertanya siapa saya, dari mana asal saya, atau apa latar belakang saya. Mereka hanya menyambut—dengan hati yang bersih.
Saat itulah saya merasa, ayat itu bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk dirasakan. Bahwa perbedaan bukan untuk menjauhkan, tetapi untuk mendekatkan. Bahwa keberagaman adalah tanda kebesaran-Nya, bukan alasan untuk berpisah.
Di tanah sederhana ini, saya belajar bahwa kemuliaan bukan terletak pada asal-usul atau penampilan, tetapi pada ketulusan hati dan kemurnian sikap. Mereka mungkin hidup dalam keterbatasan, berburu dan mencari ikan untuk bertahan, namun mereka kaya dalam rasa kemanusiaan.
Dan saya pun tersadar, bahwa dakwah sejatinya bukan hanya menyampaikan ayat, tetapi menghadirkan makna ayat itu dalam kehidupan nyata.
Di Merauke, di ujung Timur Indonesia, saya tidak hanya berdakwah…
Saya sedang belajar memahami firman Allah dengan cara yang paling hidup: melalui senyum, melalui pelukan kemanusiaan, dan melalui perbedaan yang justru mendekatkan.
Dai Komunitas Muhammadiyah, Muchamad Arifin





