LENSADAKWAH.COM. Surabaya – Suasana Shubuh di Masjid Attaqwa Pogot pada Rabu pagi, 13 Mei 2026, terasa begitu berbeda. Jamaah mulai berdatangan sejak sebelum adzan berkumandang. Wajah-wajah penuh harap memenuhi saf-saf masjid, menghadiri Kajian Inspirasi Shubuh bersama Ust. Muchamad Arifin. Dalam kesejukan pagi dan keheningan selepas shalat, kajian itu mengalir hangat, menyentuh hati, dan menghadirkan renungan mendalam tentang kehidupan manusia di tengah hiruk-pikuk dunia modern.

Tema yang disajikan pada kajian pagi itu adalah “Jangan Kehilangan Allah di Tengah Ramainya Dunia.” Sebuah tema yang sangat relevan di era sekarang, ketika manusia semakin sibuk mengejar dunia, namun perlahan kehilangan ketenangan jiwa. Banyak yang terlihat bahagia di luar, tetapi batinnya lelah. Banyak yang terhubung dengan dunia, namun jauh dari Allah.
Dalam penyampaiannya, Ust. Muchamad Arifin mengutip firman Allah dalam QS. Thaha ayat 123–124 sebagai pengingat bahwa petunjuk Allah adalah cahaya kehidupan. Allah berfirman bahwa siapa yang mengikuti petunjuk-Nya, maka ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Namun siapa yang berpaling dari mengingat Allah, maka kehidupannya akan terasa sempit.
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
Ayat ini dijelaskan sebagai pesan bahwa ketenangan hidup bukan terletak pada banyaknya harta, tingginya jabatan, ataupun ramainya pujian manusia. Hati manusia hanya akan tenang ketika dekat dengan Allah. Dunia boleh ramai, aktivitas boleh padat, tetapi jangan sampai hati kehilangan arah dan jauh dari dzikir kepada-Nya.
Kemudian beliau melanjutkan dengan ayat berikutnya:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا
Uraian dari ayat ini begitu menyentuh jamaah. Dijelaskan bahwa banyak manusia hari ini terlihat sukses secara duniawi, tetapi hidupnya terasa hampa. Kecemasan, kegelisahan, dan kehilangan makna hidup muncul karena hati terlalu sibuk dengan dunia, namun lupa menghadirkan Allah dalam setiap langkah kehidupannya. Ayat ini menjadi pengingat agar manusia tidak hanya memenuhi kehidupan dengan kesibukan, tetapi juga menghidupkan hati dengan iman, shalat, dzikir, dan kedekatan kepada Allah.
Kajian semakin mengharukan ketika Ust. Muchamad Arifin mengangkat kisah Rasulullah SAW saat berada di Gua Tsur bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Di tengah ancaman kaum Quraisy yang mengejar hingga ke depan gua, Rasulullah tidak menunjukkan ketakutan. Dalam kondisi genting itu, Nabi justru menenangkan sahabatnya dengan kalimat yang diabadikan Allah dalam QS. At-Taubah ayat 40:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Ayat ini menjadi inti pesan dalam kajian tersebut. Dijelaskan bahwa kekuatan seorang mukmin bukan karena ia tidak memiliki masalah, tetapi karena ia yakin Allah selalu bersamanya. Nabi berada dalam ancaman nyata, namun keyakinannya kepada Allah membuat hatinya tetap tenang. Dari Gua Tsur, umat belajar bahwa pertolongan Allah sering datang ketika manusia merasa tidak memiliki jalan keluar lagi.
Suasana masjid pun terasa semakin khusyuk ketika pesan itu terus diulang perlahan. Banyak jamaah tampak larut dalam perenungan. Kalimat “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” menjadi penyejuk hati di tengah beratnya kehidupan dan ramainya dunia saat ini.
Kajian Inspirasi Shubuh itu akhirnya ditutup dengan doa dan sarapan bersama jamaah. Namun pesan yang disampaikan pagi itu terasa masih tinggal di hati setiap yang hadir: dunia boleh ramai, aktivitas boleh melelahkan, tetapi jangan pernah kehilangan Allah dalam hidup, karena bersama Allah hati akan tetap kuat, tenang, dan penuh harapan.





