Beranda / Artikel / JIKA TIDAK BISA JADI PADI, MAKA JANGAN JADI ILALANG

JIKA TIDAK BISA JADI PADI, MAKA JANGAN JADI ILALANG

Oleh: Muchamad Arifin

Di hamparan sawah yang luas, kita mengenal dua jenis tanaman yang sering tumbuh berdampingan: padi dan ilalang. Padi tumbuh memberi manfaat. Ia menghasilkan bulir yang mengenyangkan banyak orang. Semakin berisi, semakin merunduk. Sebaliknya, ilalang tumbuh liar, cepat menjulang tinggi, tetapi tidak memberi manfaat yang berarti. Bahkan sering kali menjadi pengganggu bagi tanaman yang lain.

Kehidupan manusia pun tidak jauh berbeda. Ada orang yang hidupnya seperti padi, memberi manfaat bagi sekelilingnya. Kehadirannya membawa ketenangan, ilmunya mencerahkan, hartanya membantu, dan kata-katanya menyejukkan hati. Namun ada pula yang memilih menjadi seperti ilalang, tumbuh hanya untuk dirinya sendiri, merasa paling tinggi, tetapi tidak memberikan manfaat bagi orang lain.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan terletak pada jabatan, kekayaan, popularitas, atau banyaknya pengikut di media sosial. Kemuliaan sejati terletak pada seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada sesama.

Padi mengajarkan kerendahan hati. Ketika bulirnya semakin berisi, ia semakin menunduk. Begitu pula manusia yang berilmu dan berakhlak. Semakin luas ilmunya, semakin rendah hatinya. Ia tidak sibuk membanggakan diri, melainkan sibuk memperbaiki diri dan membantu orang lain.

Allah Swt. berfirman:

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” (QS. Al-Furqan: 63)

Sebaliknya, ilalang sering kali menjadi simbol kesombongan. Ia tumbuh tinggi menjulang, tetapi kosong dari manfaat. Tidak sedikit orang yang terlihat hebat di hadapan manusia, namun kehadirannya justru menimbulkan perpecahan, menyebarkan kebencian, dan melukai hati orang lain. Tingginya tidak membawa keberkahan, bahkan menjadi penghalang bagi tumbuhnya kebaikan.

Di zaman sekarang, godaan untuk menjadi “ilalang” semakin besar. Banyak orang berlomba-lomba terlihat hebat, ingin dipuji, ingin viral, ingin dianggap paling benar. Padahal kehidupan bukanlah perlombaan untuk tampak paling tinggi, melainkan kesempatan untuk menjadi paling bermanfaat.

Tidak semua orang bisa menjadi tokoh besar, ulama terkenal, pejabat penting, atau pengusaha sukses. Namun setiap orang bisa menjadi manusia yang berguna. Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya dengan baik adalah padi. Seorang ibu yang ikhlas merawat keluarganya adalah padi. Guru yang mengajar dengan tulus adalah padi. Tetangga yang ringan tangan membantu sesama juga adalah padi.

Karena itu, jika hari ini kita belum mampu menjadi padi yang menghasilkan panen melimpah bagi banyak orang, setidaknya jangan menjadi ilalang yang mengganggu pertumbuhan orang lain. Jika belum bisa membantu banyak orang, jangan menyakiti mereka. Jika belum mampu memberi kebahagiaan, jangan menjadi sumber kesedihan. Jika belum mampu menjadi solusi, jangan menambah masalah.

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan hanya demi meninggikan diri. Pada akhirnya, yang akan dikenang bukan seberapa tinggi kita berdiri, melainkan seberapa banyak manfaat yang telah kita berikan.

Maka marilah kita belajar dari padi. Tumbuh dengan manfaat, berisi dengan ilmu dan amal, serta merunduk dalam kerendahan hati. Sebab kemuliaan bukanlah tentang menjadi yang paling tinggi, tetapi tentang menjadi yang paling berarti.

Jika tidak bisa menjadi padi, maka jangan jadi ilalang. Jadilah manusia yang kehadirannya membawa manfaat, karena itulah sebaik-baik warisan yang dapat ditinggalkan dalam kehidupan ini.

Tag: