LENSADAKWAH.COM. Surabaya – Karyawan PT SPIL Indonesia mengikuti kegiatan kajian rutin yang berlangsung di Auditorium SPIL Perak Barat lantai 3, Rabu (20/5/2026). Kajian tersebut menghadirkan Ustad Muchamad Arifin dengan tema “Membangun Ketahanan Keluarga di Era Modern.”

Dalam penyampaian materinya, Ustad Muchamad Arifin memaparkan tausiyah dengan dukungan visual dan tampilan materi yang menarik sehingga apa yang disampaikan dapat disimak para peserta dengan lebih jelas dan mudah dipahami. Suasana kajian pun berlangsung interaktif dan penuh perhatian dari para karyawan yang hadir.
Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan bahwa salah satu cara memperkuat ketahanan keluarga di tengah perkembangan zaman adalah kemampuan dalam mengelola nikmat yang Allah berikan dengan baik dan penuh rasa syukur.
Menurutnya, nikmat yang terlihat kecil akan terasa cukup dan penuh keberkahan apabila disyukuri serta digunakan sesuai kebutuhan. Sebaliknya, meskipun seseorang memiliki nikmat yang berlimpah, apabila tidak mampu mensyukurinya dan jauh dari amal kebaikan, maka nikmat tersebut dapat berubah menjadi musibah dalam kehidupan keluarga.
“Bisa jadi nikmat itu sedikit, tetapi karena disyukuri dan dikelola dengan baik, hidup menjadi cukup dan berkah. Sebaliknya, nikmat yang banyak tanpa rasa syukur justru bisa menghadirkan kegelisahan,” ungkapnya di hadapan peserta kajian.
Ia menegaskan bahwa membangun ketahanan keluarga tidak selalu berkaitan dengan besarnya harta, tetapi bagaimana setiap keluarga mampu hidup sesuai ukuran dan kemampuan masing-masing tanpa terjebak gaya hidup berlebihan.
Selain itu, Ustad Muchamad Arifin juga menyoroti tantangan keluarga di era modern, terutama penggunaan media sosial yang tidak bijak. Ia menjelaskan bahwa media sosial dapat menjadi sarana kebaikan apabila dimanfaatkan dengan benar. Namun di sisi lain, penggunaan yang berlebihan dan tanpa kontrol dapat membuat hubungan keluarga menjadi renggang.
Menurutnya, tidak sedikit anggota keluarga yang secara fisik berada dalam satu rumah, tetapi hatinya berjauhan karena lebih sibuk dengan telepon genggam dan media sosial dibanding membangun komunikasi hangat dengan keluarga sendiri. Arus informasi yang tidak terfilter juga dinilai dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku generasi muda apabila tidak didampingi dengan baik.
Dalam kajian tersebut, ia juga mengingatkan bahaya peredaran narkoba dan penyalahgunaannya yang semakin mengkhawatirkan. Narkoba disebut bukan hanya merusak kesehatan, tetapi juga menghancurkan masa depan, merusak moral, hingga memicu kehancuran keluarga.
“Banyak keluarga yang awalnya harmonis akhirnya hancur karena penyalahgunaan narkoba. Karena itu keluarga harus menjadi benteng pertama dalam menjaga anak-anak dan anggota keluarga dari pengaruh buruk tersebut,” pesannya.
Kajian berlangsung hangat dan penuh perhatian dari para peserta. Materi yang disampaikan diharapkan menjadi pengingat penting bagi para karyawan agar mampu menjaga keharmonisan keluarga di tengah tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks.




