Beranda / News / KEKUATAN SEJATI LAHIR DARI KOMITMEN KEPADA ALLAH

KEKUATAN SEJATI LAHIR DARI KOMITMEN KEPADA ALLAH

Bersama: Ust. Muchamad Arifin

Surabaya – Komitmen kepada Allah SWT merupakan fondasi utama lahirnya pribadi muslim yang kuat, tangguh, dan tidak mudah tergoyahkan oleh berbagai tantangan zaman. Pesan itulah yang disampaikan Ust. Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Mujahidin Surabaya, Jumat (31/7/2026).

Mengangkat tema “Kekuatan Sejati Lahir dari Komitmen kepada Allah”, Ust. Muchamad Arifin mengajak jamaah untuk merenungkan makna kalimat yang setiap hari dibaca dalam salat, yaitu firman Allah SWT dalam Surah Al-Fatihah ayat 5:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Menurutnya, ayat tersebut bukan sekadar bacaan yang diulang dalam setiap rakaat salat, tetapi merupakan ikrar sekaligus komitmen seorang hamba kepada Rabb-nya.

“Kalau kita mampu berkomitmen terhadap apa yang kita baca dalam setiap rakaat salat, yaitu iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn, insya Allah kita akan menjadi muslim yang kuat dan tangguh,” ujar Ust. Muchamad Arifin.

Ia menegaskan bahwa kekuatan seorang mukmin tidak ditentukan oleh jabatan, kekayaan, ataupun kekuatan fisik, melainkan oleh sejauh mana ia mampu menjaga komitmennya kepada Allah SWT. Ketika hati hanya bergantung kepada Allah, seseorang akan memiliki ketenangan, keberanian, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Karena itu, beliau mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah. Jangan sampai kalimat yang setiap hari diucapkan dalam salat hanya berhenti di lisan, sementara perilaku dan gaya hidup justru bertentangan dengan ikrar yang telah diucapkan kepada Allah.

“Pertanyaannya adalah, mampukah kita menjalankan apa yang sudah kita ikrarkan dalam setiap salat? Apakah benar kita hanya menyembah Allah dan hanya bergantung kepada-Nya dalam setiap langkah kehidupan?” tuturnya.

Dalam khutbahnya, Ust. Muchamad Arifin juga mengingatkan bahwa tantangan umat Islam pada era digital semakin kompleks. Salah satunya adalah derasnya arus informasi dan berbagai isu yang beredar tanpa kejelasan fakta.

Ia mengajak jamaah untuk tidak mudah terprovokasi oleh berita, potongan video, maupun narasi yang sengaja digulirkan tanpa dasar kebenaran. Menurutnya, apabila tidak disikapi dengan tabayun dan kebijaksanaan, berbagai isu tersebut dapat menjadi alat yang memecah belah persaudaraan umat Islam.

“Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang yang menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Berhati-hatilah terhadap isu yang bergulir tanpa fakta, karena itulah yang sering dimanfaatkan untuk memecah belah persatuan umat,” pesannya.

Selain ancaman disinformasi, beliau juga menyoroti bahaya penyalahgunaan narkoba yang terus mengintai generasi muda. Menurutnya, narkoba bukan sekadar persoalan hukum atau kesehatan, tetapi ancaman serius terhadap masa depan umat karena mampu merusak akal, menghancurkan moral, memutus hubungan keluarga, dan menjauhkan seseorang dari nilai-nilai agama.

Oleh sebab itu, Ust. Muchamad Arifin mengajak seluruh jamaah untuk memperkuat benteng keimanan melalui salat yang khusyuk, memperdalam ilmu agama, membangun keluarga yang kokoh, serta menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat.

“Kita membutuhkan generasi yang kuat imannya, cerdas dalam menyaring informasi, dan berani mengatakan tidak terhadap narkoba. Itulah wujud nyata dari komitmen kepada Allah yang kita ikrarkan setiap hari dalam salat,” tegasnya.

Mengakhiri khutbahnya, beliau mengingatkan bahwa membangun umat yang kuat harus dimulai dari membangun pribadi-pribadi yang memiliki komitmen yang lurus kepada Allah SWT. Ketika setiap muslim mampu menjaga ikrar iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn dalam kehidupan sehari-hari, maka akan lahir masyarakat yang kokoh, bersatu, serta mampu menghadapi berbagai tantangan zaman tanpa kehilangan arah dan nilai-nilai keislamannya.

“Kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa besar kekuasaan yang kita miliki, tetapi pada seberapa kuat komitmen kita kepada Allah SWT. Dari sanalah lahir ketangguhan, persatuan, dan kemuliaan umat.”

Tag: