
Oleh: Muchamad Arifin, Ketua LDK PP Muhammadiyah
Ada sebuah sisi manusia yang menarik untuk direnungkan: kita sering kali memiliki begitu banyak pilihan, tetapi justru tertarik kepada sesuatu yang sedikit dan dilarang.
Kita memiliki begitu banyak makanan yang halal, tetapi masih tergoda dengan makanan yang haram. Kita memiliki banyak jalan untuk memperoleh rezeki dengan cara yang baik, tetapi sebagian orang justru memilih korupsi, menipu, atau mengambil hak orang lain. Kita memiliki banyak kesempatan untuk berkata baik, tetapi terkadang memilih mencela. Kita memiliki banyak alasan untuk memaafkan, tetapi lebih suka menyimpan dendam.
Mengapa manusia sering tertarik kepada sesuatu yang sebenarnya tidak boleh?
Pertanyaan ini membawa kita kembali kepada kisah manusia pertama, Nabi Adam ’alaihissalam.
Belajar dari Nabi Adam
Ketika Allah menempatkan Nabi Adam dan Hawa di surga, keduanya memperoleh kehidupan yang penuh kenikmatan. Allah memberikan ruang yang sangat luas untuk menikmati apa yang ada di dalamnya.
Allah berfirman:
“Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat berbagai makanan yang ada di sana sesukamu. Tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Baqarah: 35)
Perhatikan bagaimana Allah memberikan kebebasan kepada Adam dan Hawa.
Mereka dipersilakan menikmati berbagai kenikmatan yang tersedia. Namun di tengah kebebasan yang begitu luas itu terdapat satu batas: jangan mendekati pohon yang telah ditentukan Allah.
Sayangnya, justru sesuatu yang dilarang itulah yang kemudian menjadi godaan.
Setan membisikkan tipu daya kepada keduanya hingga akhirnya mereka tergelincir.
Kisah tersebut bukan sekadar cerita tentang manusia pertama. Ia mengandung pelajaran yang sangat dekat dengan kehidupan kita.
Manusia terkadang lebih tertarik kepada sesuatu yang sedikit dilarang daripada menikmati begitu banyak sesuatu yang telah Allah halalkan.
Yang Halal Begitu Banyak, Mengapa yang Haram Dicari?
Coba kita melihat kehidupan sehari-hari.
Allah memberikan begitu banyak makanan yang halal. Kita dapat menikmati nasi, sayuran, buah-buahan, daging, susu dan berbagai makanan lainnya. Namun masih ada orang yang memilih makanan yang diharamkan.
Allah memberikan begitu banyak jalan untuk memperoleh rezeki. Kita dapat bekerja, berdagang, bertani, menjadi profesional, membuka usaha, dan berbagai jalan halal lainnya. Namun masih ada yang memilih mengambil hak orang lain.
Allah memberikan pernikahan sebagai jalan yang halal untuk membangun keluarga dan menyalurkan kasih sayang. Tetapi sebagian manusia justru memilih hubungan yang dilarang.
Allah memberikan lisan untuk berkata baik. Namun lisan yang sama terkadang digunakan untuk berdusta, menggunjing, memfitnah, bahkan merendahkan orang lain.
Allah memberikan media sosial sebagai sarana komunikasi dan berbagi informasi. Tetapi tidak sedikit yang menggunakannya untuk menyebarkan kebencian, penghinaan, dan kabar yang belum tentu benar.
Seakan-akan kita memiliki begitu banyak jalan yang baik, tetapi perhatian justru tertuju kepada satu jalan yang dilarang.
Di sinilah manusia perlu berhenti sejenak dan bercermin.
Yang Sedikit Terkadang Terlihat Lebih Menarik
Barangkali salah satu kelemahan manusia adalah mudah tertarik kepada sesuatu yang dilarang.
Sesuatu yang halal karena tersedia luas sering dianggap biasa. Sebaliknya, sesuatu yang dilarang justru menimbulkan rasa penasaran.
Padahal Allah telah mengingatkan:
“Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.”
(QS. Al-Baqarah: 168)
Setan tidak selalu mengajak manusia melakukan dosa besar secara langsung. Ia sering memulainya dari sesuatu yang tampak kecil.
Satu pandangan.
Satu kebohongan.
Satu komentar.
Satu kesempatan mengambil yang bukan hak.
Satu kali mencoba.
Kemudian diulangi.
Yang awalnya hanya sekali menjadi kebiasaan. Yang menjadi kebiasaan akhirnya terasa biasa. Dan sesuatu yang semula dianggap dosa perlahan tidak lagi terasa sebagai kesalahan.
Di situlah manusia mulai kehilangan kendali atas dirinya.
Jangan Sampai yang Sedikit Menghilangkan yang Banyak
Ada orang yang kehilangan pekerjaan hanya karena satu tindakan tidak jujur.
Ada yang kehilangan kepercayaan karena satu kebohongan.
Ada yang menghancurkan rumah tangga karena satu keputusan yang salah.
Ada yang kehilangan persahabatan karena satu ucapan yang tidak dijaga.
Ada pula yang merusak masa depan karena mengejar kesenangan sesaat.
Sesuatu yang dilakukan beberapa menit terkadang membawa penyesalan bertahun-tahun.
Karena itu, kita perlu belajar menghitung sebelum memilih.
Apakah kesenangan sesaat itu sebanding dengan akibat yang mungkin ditimbulkan?
Apakah keuntungan yang sedikit itu sebanding dengan hilangnya keberkahan?
Apakah satu kenikmatan haram layak ditukar dengan ketenangan hati?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting karena tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki.
Dan tidak semua yang bisa kita lakukan boleh kita lakukan.
Mungkin Masalah Kita Bukan Kekurangan
Sering kali kita mengeluh karena merasa hidup ini kurang.
Kurang uang.
Kurang harta.
Kurang jabatan.
Kurang penghargaan.
Kurang perhatian.
Kurang kenyamanan.
Namun pernahkah kita menghitung berapa banyak nikmat yang sudah Allah berikan?
Mata yang masih bisa melihat.
Telinga yang masih bisa mendengar.
Kaki yang masih bisa berjalan.
Tangan yang masih bisa bekerja.
Akal yang masih bisa berpikir.
Keluarga yang masih bisa dipeluk.
Teman yang masih bisa diajak berbagi.
Waktu yang masih diberikan.
Dan yang paling besar: kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali kepada Allah.
Allah berfirman:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini mengajarkan bahwa persoalan hidup tidak selalu terletak pada sedikit atau banyaknya nikmat.
Sering kali persoalannya terletak pada kemampuan kita melihat dan mensyukurinya.
Orang yang tidak bersyukur dapat memiliki banyak tetapi tetap merasa kurang. Sebaliknya, orang yang bersyukur dapat memiliki sederhana tetapi hatinya merasa cukup.
Jangan Menjadi Tawanan Keinginan
Kita sering berbicara tentang kemerdekaan.
Bangsa Indonesia telah merdeka dari penjajahan. Tetapi kemerdekaan dalam kehidupan pribadi memiliki makna yang lebih dalam.
Seseorang belum tentu merdeka hanya karena tidak berada di balik jeruji.
Ia bisa saja merdeka secara fisik, tetapi menjadi tawanan hawa nafsunya.
Allah berfirman:
“Sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Hawa nafsu dapat menjadi penjara yang tidak memiliki pintu dan jeruji.
Seseorang tahu bahwa sesuatu itu salah, tetapi tidak mampu meninggalkannya.
Ia tahu bahwa sesuatu itu merusak, tetapi terus melakukannya.
Ia ingin berhenti, tetapi selalu kembali.
Secara lahiriah ia tampak bebas. Namun sesungguhnya ia sedang menjadi tawanan.
Karena itu, kemerdekaan yang sesungguhnya bukanlah kemampuan melakukan apa saja yang kita inginkan.
Kemerdekaan adalah kemampuan mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang kita inginkan ketika Allah melarangnya.
Belajar Merasa Cukup
Mungkin kita perlu belajar satu kata yang sederhana tetapi berat dilakukan:
cukup.
Cukup dengan rezeki yang halal.
Cukup dengan apa yang menjadi hak kita.
Cukup dengan tidak mengambil milik orang lain.
Cukup dengan tidak membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.
Cukup dengan menikmati apa yang Allah berikan.
Cukup dengan tidak mengejar sesuatu hanya karena orang lain memilikinya.
Sebab tidak semua yang terlihat indah harus menjadi milik kita.
Tidak semua yang kita inginkan baik bagi kita.
Dan tidak semua yang belum kita miliki berarti kita sedang kekurangan.
Boleh jadi Allah sedang menjaga kita dengan tidak memberikan sesuatu yang kita inginkan.
Renungan di Tengah Kemerdekaan
Momentum kemerdekaan seharusnya tidak hanya mengajak kita mengenang perjuangan para pahlawan. Ia juga menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah saya benar-benar merdeka?
Merdeka dari keserakahan?
Merdeka dari iri hati?
Merdeka dari kebencian?
Merdeka dari kebiasaan mencari kesenangan yang dilarang?
Merdeka dari keinginan untuk selalu dipuji?
Merdeka dari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain?
Atau jangan-jangan kita sibuk merayakan kemerdekaan bangsa, sementara diri kita sendiri masih menjadi tawanan hawa nafsu?
Pertanyaan ini tidak perlu dijawab oleh orang lain.
Cukup kita jawab dengan jujur di hadapan Allah dan diri sendiri.
Sebab pada akhirnya, setiap manusia akan mempertanggungjawabkan pilihannya.
Allah berfirman:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Jangan Kehilangan yang Banyak karena Mengejar yang Sedikit
Kisah Nabi Adam mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan selalu memiliki batas.
Allah tidak mengharamkan segala sesuatu. Justru yang halal jauh lebih banyak.
Allah tidak menutup seluruh jalan kehidupan. Allah hanya memberikan rambu-rambu agar manusia tidak tersesat.
Karena itu, jangan melihat larangan Allah sebagai bentuk pembatasan semata.
Bisa jadi larangan itu adalah bentuk kasih sayang.
Seperti pagar di tepi jurang. Pagar bukan dibuat untuk menghalangi perjalanan, tetapi untuk menyelamatkan manusia dari kejatuhan.
Demikian pula batas-batas yang Allah tetapkan.
Ia bukan untuk memenjarakan manusia.
Ia justru untuk menjaga manusia agar tetap merdeka.
Maka sebelum mengejar sesuatu yang sedikit, lihatlah kembali begitu banyak yang telah Allah berikan.
Sebelum mengambil yang bukan hak kita, lihatlah rezeki yang sudah ada.
Sebelum mengejar kesenangan yang dilarang, ingatlah begitu banyak kesenangan halal yang tersedia.
Sebelum mengeluh tentang kehidupan, hitunglah nikmat yang selama ini kita terima tanpa pernah membayarnya.
Barangkali kita tidak kekurangan.
Barangkali kita hanya kurang bersyukur.
Dan barangkali masalah terbesar manusia bukan karena Allah memberikan terlalu sedikit.
Tetapi karena manusia terlalu sering mengejar yang sedikit dan melupakan yang begitu banyak.
Maka, mari belajar menikmati yang halal, mensyukuri yang ada, meninggalkan yang dilarang, dan merasa cukup dengan apa yang Allah titipkan.
Sebab hidup bukan tentang mendapatkan semua yang kita inginkan.
Hidup adalah tentang memilih apa yang Allah ridhai.
Jangan sampai karena mengejar yang sedikit, kita kehilangan yang jauh lebih banyak.
Jangan sampai karena mengejar kesenangan sesaat, kita kehilangan ketenangan yang panjang.
Dan jangan sampai karena ingin memiliki sesuatu yang bukan milik kita, kita kehilangan keberkahan dari apa yang sebenarnya sudah Allah berikan.
#RenunganKemerdekaan
#MaknaKemerdekaan
#MerdekaDalamIslam
#RenunganIslam
#MuhasabahDiri
#BelajarBersyukur
#HawaNafsu
#DakwahMencerahkan
#muchamadarifin






