Beranda / News / MAULID NABI: KEMBALI MENJADI MANUSIA SEBAGAI HAMBA BUKAN PENGUASA

MAULID NABI: KEMBALI MENJADI MANUSIA SEBAGAI HAMBA BUKAN PENGUASA

Bersama: Ustad Muchamad Arifin

LENSADAKWAH.COM. Surabaya – Kajian Inspiratif Subuh (KIS) di Masjid Attaqwa Pogot Surabaya, Rabu (26/8/2026), kembali mengajak jamaah menyelami makna kehidupan melalui sebuah tema yang dekat dengan perjalanan manusia: “Maulid Nabi: Kembali Menjadi Manusia sebagai Hamba, Bukan Penguasa.”

Kajian yang diasuh Ustaz Muchamad Arifin tersebut tidak sekadar mengajak jamaah mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ, tetapi menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai ruang untuk melakukan refleksi: untuk apa manusia hidup, bagaimana seharusnya menempatkan diri di hadapan Allah, dan mengapa manusia sering kali justru memilih jalan yang lebih sulit daripada jalan yang telah dimudahkan Allah.

Dalam kajian tersebut, Ustaz Muchamad Arifin mengawali pembahasan dengan sebuah renungan bahwa manusia pada dasarnya telah diberikan banyak kemudahan oleh Allah. Namun, tidak jarang manusia justru memilih sesuatu yang menyulitkan dirinya sendiri.

“Manusia sering diberi kemudahan, tetapi memilih kesulitan. Diberi kesenangan, tetapi memilih kesusahan,” menjadi salah satu pesan reflektif yang mengemuka dalam kajian.

Kisah Nabi Adam menjadi salah satu pijakan penting dalam memahami perjalanan tersebut. Nabi Adam AS, kata Arifin, merupakan manusia pertama yang merasakan kehidupan di surga. Allah memberikan kebebasan yang luas, dengan satu batasan: tidak mendekati satu pohon yang telah ditentukan.

Namun, larangan yang hanya satu itu ternyata tetap dilanggar. Dari sinilah manusia belajar bahwa persoalan terbesar bukan selalu karena banyaknya aturan, melainkan karena ketidakmampuan menjaga amanah ketika kebebasan telah diberikan.

Akibat pelanggaran tersebut, Nabi Adam AS harus meninggalkan kenikmatan surga. Beliau diturunkan ke bumi untuk menjalani kehidupan yang penuh perjuangan.

“Dunia ini adalah tempat berjuang,” jelas Arifin. Kehidupan dunia bukanlah tempat untuk menikmati kebebasan tanpa batas, melainkan ruang bagi manusia untuk membuktikan ketaatan, kesabaran, tanggung jawab, dan kesungguhannya sebagai hamba Allah.

Karena itu, berbagai ujian kehidupan sejatinya bukan sekadar kesulitan, tetapi bagian dari perjalanan manusia menuju tujuan akhirnya. Manusia diuji dengan berbagai keadaan—kesenangan, kesusahan, kekayaan, keterbatasan, keberhasilan maupun kegagalan—untuk mengetahui sejauh mana dirinya mampu tetap menjadi hamba Allah.

Jika manusia mampu melewati ujian tersebut dengan iman dan ketaatan, maka ada tempat kembali yang telah dijanjikan Allah: surga.

Pesan itu kemudian dikaitkan dengan momentum Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Meneladani Rasulullah ﷺ berarti mengembalikan kesadaran manusia kepada posisi yang paling mendasar: sebagai hamba Allah, bukan penguasa atas segala sesuatu.

Rasulullah ﷺ adalah teladan manusia yang memiliki kedudukan mulia, tetapi justru menunjukkan ketundukan dan penghambaan yang sempurna kepada Allah. Karena itu, peringatan Maulid tidak cukup berhenti pada kegembiraan mengenang kelahiran Nabi, tetapi harus melahirkan perubahan dalam cara manusia menjalani kehidupan.

Dari kisah Nabi Adam hingga keteladanan Rasulullah ﷺ, jamaah diajak memahami bahwa kehidupan dunia adalah perjalanan kembali. Manusia pernah berada dalam gambaran kenikmatan surga melalui kisah Nabi Adam, kemudian menjalani kehidupan dunia sebagai tempat ujian dan perjuangan, sebelum akhirnya kembali kepada Allah.

“Maulid seharusnya menjadi momentum untuk kembali menjadi hamba. Bukan merasa sebagai penguasa, tetapi menyadari bahwa seluruh kehidupan ini adalah amanah dari Allah,” demikian pesan yang menguat dalam kajian KIS tersebut.

Kajian pun menjadi ruang perenungan bagi jamaah bahwa setiap kesulitan, ujian, dan perjuangan yang dihadapi di dunia bukanlah akhir perjalanan. Semuanya merupakan bagian dari proses menuju kehidupan yang lebih abadi.

Pada akhirnya, Maulid Nabi bukan hanya tentang mengenang Rasulullah ﷺ, tetapi tentang menghadirkan kembali nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan: taat ketika diberi amanah, bersabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi nikmat, dan tetap rendah hati karena menyadari bahwa manusia hanyalah hamba di hadapan Allah.

#MaulidNabi #KembaliMenjadiHamba #HambaBukanPenguasa #KajianKIS #MasjidAttaqwaPogot #Muhammadiyah #KajianIslam #Surabaya