Beranda / Umum / Menjaga Tradisi, Menguatkan Dakwah: MIM 25 Surabaya Silaturrahim ke Sesepuh Muhammadiyah Kenjeran

Menjaga Tradisi, Menguatkan Dakwah: MIM 25 Surabaya Silaturrahim ke Sesepuh Muhammadiyah Kenjeran

SURABAYA. Lensadakwah.com – Suasana Idul Fitri yang penuh keberkahan dimanfaatkan oleh keluarga besar MI Muhammadiyah 25 Surabaya (MIM 25) untuk mempererat tali silaturrahim dengan para tokoh Muhammadiyah di wilayah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kenjeran. Dalam momentum hari raya ini, para ustadz dan ustadzah meluangkan waktu untuk mengunjungi para sesepuh sebagai bentuk penghormatan dan penguatan nilai-nilai kebersamaan dalam dakwah.

Salah satu tokoh yang dikunjungi adalah Muchamad Arifin, yang pernah menjabat sebagai Ketua PCM Kenjeran periode 2005–2010. Kehadiran rombongan disambut dengan hangat, menciptakan suasana penuh keakraban dan kekeluargaan yang begitu terasa sepanjang pertemuan.

Kegiatan silaturrahim diawali dengan perkenalan rombongan oleh Wakil Kepala Sekolah, Aksar Wiyono, yang menyampaikan satu per satu nama peserta yang turut hadir. Momen ini menjadi awal dari dialog hangat yang sarat makna dan penuh inspirasi.

Dalam pertemuan tersebut, berbagai kisah dan pengalaman selama memimpin Muhammadiyah di Kenjeran turut dibagikan oleh Ustadz Arifin. Cerita-cerita tersebut menjadi pelajaran berharga bagi para guru, sekaligus meneguhkan semangat berkhidmat dalam dunia pendidikan dan dakwah.

Acara yang berlangsung pada Senin, 30 Maret 2026, pukul 10.30 hingga 12.00 WIB ini berjalan dengan penuh nuansa persaudaraan dan kekeluargaan. Tawa, cerita, dan nasihat mengalir alami, memperkuat ikatan emosional antara generasi penerus dengan para pendahulu Muhammadiyah.

Sebagai penutup, Ustadz Arifin menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungan tersebut. Ia berharap silaturrahim ini membawa keberkahan, memperpanjang umur, melapangkan rezeki, serta mendorong MI Muhammadiyah 25 Surabaya untuk terus maju, amanah, dan semakin dipercaya oleh masyarakat.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa nilai silaturrahim tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga energi spiritual yang menghidupkan gerakan dakwah dan pendidikan Muhammadiyah di tengah masyarakat.