Beranda / Umum / Merajut Rindu dalam Temu Keluarga Bani Thayib

Merajut Rindu dalam Temu Keluarga Bani Thayib

MALANG. Lensadakwah – Di antara lekuk perbukitan yang sunyi di wilayah Tirtoyudo, sebuah kisah hangat tentang keluarga dan kenangan kembali dirajut. Rabu, 25 Maret 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi keluarga besar Bani Thayib. Di desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, mereka berkumpul dalam sebuah temu keluarga yang sederhana, namun sarat makna.

Udara pegunungan yang sejuk seakan menjadi saksi bisu ketika satu per satu anggota keluarga datang, membawa rindu yang lama tersimpan. Acara dimulai dengan doa bersama—lantunan harap yang dipanjatkan untuk para leluhur yang telah lebih dahulu berpulang, sekaligus permohonan kesehatan dan kemudahan hidup bagi yang masih diberi kesempatan menapaki hari.

Dalam keheningan yang khidmat, terselip rasa haru. Namun suasana perlahan mencair saat kebersamaan berlanjut ke makan bersama. Di situlah cerita-cerita lama kembali dihidupkan—kisah masa kecil di desa, kenangan orang tua, hingga canda yang dulu pernah mengisi hari-hari sederhana. Nostalgia yang sempat membasahi mata, justru menjelma menjadi perekat keakraban yang lama tak terjalin.

Acara ini dipimpin oleh Muchamad Arifin, anak bungsu dari almarhum keluarga besar Bani Thayib. Dengan penuh ketulusan, ia memandu jalannya doa hingga akhir acara, menghadirkan suasana yang hangat, tertib, dan penuh makna kekeluargaan.

Sebagai penutup, kebersamaan diakhiri dengan makan bersama yang terasa lebih dari sekadar hidangan—ia menjadi simbol persatuan dan cinta keluarga. Satu per satu anggota keluarga kemudian berpamitan dengan tuan rumah, Ibu Istiqamah, yang dengan ramah telah membuka pintu dan hatinya bagi seluruh keluarga.

Acara yang berlangsung di lereng pegunungan Tirtoyudo itu pun berakhir dengan senyum, kedamaian, dan harapan. Meski sederhana, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun jarak memisahkan, keluarga akan selalu menemukan jalan untuk kembali pulang.Arifin