Malaka, Malaysia, 10 Agustus 2026 – Perjalanan ke sebuah tempat bersejarah tidak selalu berhenti pada kekaguman terhadap bangunan atau peninggalan masa lalu. Bagi Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, perjalanan juga menjadi kesempatan untuk belajar, merenung, dan mensyukuri karunia Allah SWT yang telah memberikan manusia akal untuk membaca tanda-tanda kehidupan.

Senin (10/8/2026), dalam rangkaian rihlah dakwah dan budaya, Muchamad Arifin menyempatkan diri menelusuri salah satu ikon sejarah maritim Kota Melaka, Malaysia, yakni replika kapal Flor de la Mar yang berada di kawasan Maritime Museum Melaka.
Berdiri megah dengan badan kapal yang besar, tiang-tiang menjulang, serta jaringan tali yang membentang di antara tiangnya, kapal tersebut seolah membawa pengunjung kembali ke masa berabad-abad silam. Di balik bentuknya yang menarik perhatian, tersimpan cerita panjang tentang perjalanan Melaka sebagai salah satu kawasan penting dalam sejarah perdagangan dan pelayaran dunia.
Flor de la Mar, yang berarti “Bunga Laut”, merupakan kapal Portugis yang terkenal dalam sejarah Melaka. Kapal aslinya berlayar pada awal abad ke-16 dan dikaitkan dengan perjalanan Portugis di kawasan Melaka. Kapal tersebut kemudian tenggelam di sekitar Selat Melaka pada 1512 dalam perjalanan menuju Eropa. Replikanya kini menjadi bagian dari Maritime Museum Melaka dan digunakan untuk memperkenalkan sejarah maritim Melaka kepada generasi masa kini.
Museum tersebut tidak hanya menghadirkan bentuk kapal, tetapi juga menyimpan cerita mengenai kehidupan pelaut, jalur perdagangan, rempah-rempah, peperangan laut, teknik navigasi, pembangunan kapal, hingga perjumpaan berbagai kekuatan dan kebudayaan dalam sejarah Melaka.
Bagi Muchamad Arifin, melihat kapal tersebut secara langsung menghadirkan pengalaman yang berbeda. Sejarah terasa bukan lagi sekadar tulisan dalam buku, tetapi sesuatu yang dapat direnungkan melalui peninggalan yang masih dirawat hingga hari ini.
Melaka sendiri merupakan kota yang kaya akan jejak sejarah. Letaknya yang strategis di sepanjang Selat Melaka menjadikannya kawasan penting dalam perjalanan perdagangan sejak berabad-abad lalu. Jejak Portugis, Belanda, dan Inggris serta berbagai perkembangan budaya masih dapat ditemukan di berbagai sudut kota tersebut. Melaka kini dikenal sebagai kota warisan dunia UNESCO.
Sejarah Mengajak Manusia Berpikir
Berdiri di hadapan Flor de la Mar, Muchamad Arifin melihat sejarah bukan hanya sebagai cerita tentang kapal yang pernah berlayar dan kemudian tenggelam.
Ada pelajaran yang jauh lebih besar.
Perjalanan manusia selalu bergerak. Ada masa ketika laut menjadi jalan utama yang mempertemukan berbagai wilayah. Kapal membawa manusia, barang, gagasan, budaya, dan pengalaman dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari perjalanan itu lahir perubahan-perubahan besar yang kemudian membentuk sejarah sebuah bangsa dan peradaban.
“Rihlah ini bukan sekadar perjalanan melihat tempat baru. Ini kesempatan untuk belajar membaca sejarah, melihat perjalanan manusia, sekaligus mensyukuri karunia Allah SWT yang memberikan kita akal untuk berpikir dan mengambil pelajaran dari kehidupan,” ujar Muchamad Arifin.
Menurutnya, seorang dai juga membutuhkan wawasan yang luas. Dakwah tidak cukup hanya memahami persoalan keagamaan secara tekstual, tetapi juga perlu memahami manusia, sejarah, budaya, dan perubahan kehidupan masyarakat.
Karena itu, perjalanan menjadi salah satu cara untuk memperluas cakrawala.
Melalui perjalanan, seseorang dapat melihat bahwa dunia begitu luas dan kehidupan manusia sangat beragam. Setiap tempat memiliki cerita, setiap masyarakat memiliki pengalaman, dan setiap perjalanan sejarah meninggalkan pelajaran.
Rihlah yang Berujung Syukur
Bagi Muchamad Arifin, rihlah dakwah dan budaya menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus ungkapan syukur.
Allah SWT telah memberikan manusia kemampuan untuk melihat, mendengar, berpikir, dan mengambil hikmah. Karena itu, perjalanan seharusnya tidak berhenti pada dokumentasi dan foto, tetapi berlanjut menjadi perenungan.
Di hadapan kapal Flor de la Mar, misalnya, manusia diajak menyadari bahwa kejayaan, kekuatan, perjalanan, bahkan sebuah kapal yang pernah menjadi bagian dari sejarah, semuanya memiliki batas waktu.
Yang tersisa kemudian adalah pelajaran.
Sejarah mengajarkan manusia agar tidak hanya melihat apa yang pernah terjadi, tetapi juga bertanya apa yang dapat dipelajari untuk kehidupan hari ini.
Dalam konteks dakwah, pelajaran itu menjadi semakin penting. Seorang dai komunitas dituntut untuk hadir di tengah masyarakat dengan wawasan yang luas, mampu memahami perubahan zaman, serta menyampaikan pesan agama dengan cara yang mencerahkan.
Dakwah bukan hanya berbicara kepada manusia, tetapi juga belajar memahami manusia dan kehidupan yang mereka jalani.
Melaka kemudian menjadi ruang refleksi. Di kota yang menyimpan begitu banyak jejak perjalanan sejarah ini, Muchamad Arifin melihat bahwa peradaban dibangun melalui perjalanan panjang, interaksi, dan perjumpaan manusia.
Dari sana muncul pesan sederhana: jangan berhenti belajar dari sejarah.
Sebab manusia yang berakal bukan hanya manusia yang mampu mengetahui sesuatu, tetapi manusia yang mampu mengambil hikmah dari apa yang dilihatnya.
Membawa Pulang Hikmah
Perjalanan di hadapan Flor de la Mar akhirnya menjadi bagian kecil dari perjalanan dakwah yang lebih besar.
Bukan sekadar tentang kapal tua.
Bukan pula sekadar tentang Melaka.
Tetapi tentang bagaimana manusia menggunakan akalnya untuk membaca kehidupan, mengenang sejarah, mensyukuri nikmat Allah, dan mengambil pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
“Setiap perjalanan semestinya membawa kita semakin dekat kepada rasa syukur. Kita melihat kebesaran sejarah, menyaksikan perjalanan manusia, lalu menyadari betapa besar karunia Allah yang memberikan kita akal untuk berpikir dan hati untuk merenung,” demikian refleksi Muchamad Arifin.
Dari Melaka, sebuah perjalanan sederhana akhirnya menemukan makna yang lebih dalam: berjalan untuk melihat, melihat untuk berpikir, berpikir untuk mengambil hikmah, dan mengambil hikmah untuk semakin bersyukur kepada Allah SWT.
Itulah makna rihlah dakwah dan budaya—perjalanan yang tidak hanya memperluas jarak langkah, tetapi juga memperluas wawasan, memperdalam renungan, dan memperkaya bekal untuk terus mencerahkan masyarakat.





