Beranda / Dakwah / Saat Algoritma Menjadi Guru Baru, Dakwah Harus Hadir

Saat Algoritma Menjadi Guru Baru, Dakwah Harus Hadir

Oleh: Muchamad Arifin
Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Saat Algoritma Menjadi Guru Baru, Dakwah Harus Hadir “Siapa guru kita hari ini?” Dua puluh tahun lalu, jawaban atas pertanyaan itu mungkin sederhana: orang tua, guru di sekolah, dosen di kampus, atau ustaz di masjid. Mereka menjadi rujukan utama dalam membentuk cara berpikir, sikap, dan nilai-nilai kehidupan.

Namun, zaman telah berubah.

Hari ini, jutaan orang memulai pagi dengan membuka layar telepon genggam sebelum berbincang dengan anggota keluarga. Mereka mencari jawaban melalui mesin pencari, mengikuti perkembangan melalui media sosial, dan bahkan mulai bertanya kepada aplikasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Tanpa disadari, ada “guru” baru yang setiap hari memilihkan apa yang kita lihat, apa yang kita baca, siapa yang kita dengarkan, bahkan perlahan membentuk cara kita memahami dunia.

Guru baru itu bernama algoritma.

Algoritma bukan sekadar rumus matematika yang bekerja di balik layar media sosial. Ia menentukan konten yang muncul di beranda, video yang direkomendasikan, berita yang paling sering dibaca, hingga percakapan yang terus diulang dalam ruang digital. Dalam banyak hal, algoritma telah menjadi “kurikulum” yang membentuk perhatian masyarakat.

Inilah perubahan besar yang sedang kita hadapi. Ruang digital tidak lagi hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang pembentukan karakter, cara berpikir, bahkan pandangan hidup.

Data terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pengguna internet Indonesia telah mencapai sekitar 229 juta jiwa atau lebih dari delapan puluh persen penduduk. Angka ini menunjukkan bahwa dunia digital telah menjadi ruang hidup baru masyarakat Indonesia. Sebagian besar aktivitas mencari informasi, belajar, bekerja, berbelanja, hingga membangun relasi kini berlangsung melalui internet.

Perubahan tersebut tentu membawa manfaat yang luar biasa. Teknologi mempercepat akses ilmu pengetahuan, memperluas kesempatan belajar, membuka peluang ekonomi, dan mempermudah komunikasi lintas batas.

Namun, kemajuan teknologi juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil.

Ruang digital dipenuhi berbagai informasi yang datang tanpa henti. Di dalamnya bercampur antara ilmu dan hoaks, dakwah dan provokasi, edukasi dan pornografi, inspirasi dan penipuan, bahkan ajakan kebaikan dengan promosi perjudian daring. Semua hadir dalam layar yang sama dan bersaing memperebutkan perhatian manusia.

Persoalannya, algoritma tidak selalu mengutamakan kebenaran. Ia lebih sering mempromosikan konten yang mampu menarik perhatian, memancing emosi, dan membuat pengguna bertahan lebih lama di dalam platform. Akibatnya, informasi yang paling banyak dilihat belum tentu menjadi informasi yang paling benar.

Di sinilah tantangan dakwah memasuki babak baru.

Selama ini dakwah lebih banyak dipahami sebagai aktivitas yang berlangsung di masjid, musala, majelis taklim, atau ruang-ruang pertemuan. Padahal, hakikat dakwah adalah menghadirkan nilai-nilai Islam di mana pun manusia menjalani kehidupannya.

Jika dahulu pasar menjadi pusat interaksi masyarakat, maka para ulama hadir di pasar. Ketika sekolah berkembang, dakwah masuk ke dunia pendidikan. Ketika radio dan televisi menjadi media utama, dakwah memanfaatkannya sebagai sarana menyampaikan risalah Islam.

Kini, manusia berpindah ke ruang digital.

Maka dakwah pun harus hadir di ruang digital.

Kehadiran dakwah di dunia virtual bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Ia merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berjalan seiring dengan kemajuan akhlak.

Dalam sebuah dialog di program Ngaso TVMu, saya menyampaikan bahwa perkembangan teknologi harus selalu diiringi dengan hadirnya konten-konten dakwah yang mencerahkan. Sebab teknologi hanyalah alat. Nilainya ditentukan oleh siapa yang menggunakannya dan untuk tujuan apa alat itu dimanfaatkan.

Pisau yang sama dapat digunakan seorang dokter untuk menyelamatkan pasien, tetapi juga dapat melukai apabila berada di tangan yang salah. Demikian pula teknologi digital. Ia dapat menjadi jalan menuju ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk berbagai bentuk penyimpangan apabila kehilangan pendamping moral.

Karena itu, masyarakat digital membutuhkan lebih dari sekadar akses informasi. Mereka membutuhkan pendamping.

Di sinilah pentingnya kehadiran dai virtual.

Dai virtual bukan sekadar penceramah yang memiliki akun media sosial atau jutaan pengikut. Perannya jauh lebih besar. Ia adalah pendamping moral masyarakat digital (digital moral companion), yang membantu umat memanfaatkan teknologi secara bijaksana, kritis, produktif, dan bertanggung jawab.

Dai virtual hadir bukan hanya untuk menyampaikan dalil, tetapi juga membimbing masyarakat menghadapi persoalan nyata era digital: hoaks, ujaran kebencian, polarisasi, penipuan daring, kecanduan media sosial, hingga berbagai persoalan etika dalam penggunaan kecerdasan buatan.

Dengan kata lain, dakwah digital tidak cukup hanya memproduksi ceramah. Dakwah harus membangun ekosistem yang menghadirkan literasi digital, pendidikan karakter, penguatan akhlak, dan ketahanan moral masyarakat.

Inilah yang membedakan dakwah digital dengan sekadar aktivitas membuat konten. Konten bisa viral dalam hitungan jam, tetapi nilai hanya akan tumbuh melalui pendampingan yang berkelanjutan.

Muhammadiyah sejak awal berdirinya telah menunjukkan bahwa Islam dan kemajuan tidak pernah saling bertentangan. Semangat berkemajuan yang diwariskan oleh KH Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi harus dimanfaatkan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat manusia.

Karena itu, dakwah digital bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan.

Masa depan dakwah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya mimbar yang dibangun, tetapi juga oleh seberapa kuat nilai-nilai Islam hadir di ruang digital yang setiap hari dikunjungi jutaan orang.

Jika algoritma telah menjadi guru baru bagi masyarakat, maka dakwah harus menjadi penuntun yang memastikan proses belajar itu tetap mengarah pada kebenaran, kemanusiaan, dan ketakwaan.

Teknologi akan terus berkembang. Kecerdasan buatan akan semakin canggih. Algoritma akan semakin pintar memahami kebiasaan manusia.

Namun satu hal tidak boleh berubah: dakwah harus selalu hadir lebih dekat dengan umat dibandingkan segala bentuk pengaruh yang berpotensi menjauhkan mereka dari nilai-nilai Islam.

Sebab pada akhirnya, tantangan terbesar abad ini bukanlah perkembangan teknologi, melainkan bagaimana memastikan bahwa setiap kemajuan teknologi tetap diterangi oleh cahaya wahyu dan akhlak. Di situlah dakwah menemukan relevansinya, bukan sebagai penonton perubahan, tetapi sebagai penuntun peradaban.

Tag: