Surabaya, 26 Juli 2026 — Masjid At-Taqwa Pogot Surabaya kembali menjadi ruang pembelajaran umat melalui kegiatan Kajian dan Dialog Islami Ba’da Maghrib yang digelar pada Ahad (26/7/2026). Mengangkat tema “Turki Dulu dan Kini: Dinamika Islam di Tengah Perubahan Zaman”, kegiatan ini menghadirkan Sekretaris Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Turki, Ust. Maftuh Ikhsan Nanda Kurniawan, bersama Delegasi YediHilal Turki, yakni Tarik Ziyd Kanadıkırık, Ahmet Salih Yıldız, dan Yusuf Kerem Taştan.

Dialog yang dipandu oleh Muchamad Arifin, Ketua Takmir Masjid At-Taqwa Pogot Surabaya, berlangsung hangat dan interaktif. Ratusan jamaah yang memenuhi area utama masjid tampak antusias mengikuti jalannya diskusi, bahkan banyak di antara mereka menyampaikan pertanyaan mengenai perkembangan Islam di Turki, hubungan masyarakat Turki dengan Islam, serta tantangan dakwah di era modern.
Berbeda dengan kajian pada umumnya, penyampaian materi dikemas dalam bentuk dialog sehingga suasana menjadi lebih hidup. Para narasumber tidak hanya memaparkan sejarah, tetapi juga berbagi pengalaman langsung mengenai kehidupan umat Islam di Turki saat ini, termasuk kiprah Muhammadiyah dan berbagai aktivitas sosial kemanusiaan yang terus berkembang.
Dalam dialog tersebut dijelaskan bahwa Turki pernah menjadi pusat kejayaan peradaban Islam melalui Kekhalifahan Utsmaniyah yang membentang selama berabad-abad. Dari negeri itulah lahir berbagai kemajuan dalam bidang pemerintahan, ilmu pengetahuan, pendidikan, arsitektur, hingga peradaban yang memberi pengaruh besar terhadap dunia Islam. Namun, perubahan politik, melemahnya persatuan, serta berbagai dinamika internal dan eksternal akhirnya membawa Turki memasuki fase kemunduran hingga runtuhnya kekhalifahan pada awal abad ke-20.
Meski demikian, narasumber menegaskan bahwa wajah Islam di Turki saat ini terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Semangat masyarakat untuk mempelajari Islam, membangun masjid, mengembangkan pendidikan, serta menghidupkan nilai-nilai keislaman terus tumbuh di tengah kehidupan negara modern. Dakwah dilakukan dengan pendekatan yang bijaksana, inklusif, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
Dari dialog tersebut, jamaah diajak mengambil hikmah bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin untuk memperbaiki masa depan. Kejayaan tidak boleh melahirkan kesombongan dan membuat umat terlena. Sebab ketika sebuah bangsa atau umat mulai merasa paling kuat, melupakan nilai-nilai agama, kehilangan persatuan, serta mengabaikan amanah, maka kejayaan itu dapat berubah menjadi kemunduran. Sebaliknya, membangun peradaban membutuhkan waktu yang panjang, tetapi ketika telah runtuh, kebangkitannya memerlukan perjuangan yang jauh lebih berat.
Ketua Takmir Masjid At-Taqwa Pogot Surabaya, Muchamad Arifin, menyampaikan bahwa dialog lintas negara seperti ini menjadi sarana penting untuk memperluas wawasan keislaman sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah. Menurutnya, pengalaman umat Islam di berbagai belahan dunia merupakan pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia dalam menjaga persatuan, memakmurkan masjid, serta membangun peradaban Islam yang berkemajuan.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah antara jamaah dengan Delegasi YediHilal Turki sebagai wujud persaudaraan Islam yang melintasi batas negara. Diharapkan, forum seperti ini dapat terus menghadirkan inspirasi serta memperkuat semangat umat dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu, akhlak, persatuan, dan nilai-nilai Islam rahmatan lil ’alamin.
Ditulis : Muchamad Arifin





