Beranda / Umum / “Crossing The Bridge: Saat Akhlak Anak Mumtas Menginspirasi Dunia”

“Crossing The Bridge: Saat Akhlak Anak Mumtas Menginspirasi Dunia”

LENSADAKWAH.COMSurabaya, 22 April 2026 — Suasana Rabu pagi di SD Muhammadiyah 10 Surabaya, yang akrab dikenal sebagai Sekolah Mumtas, terasa berbeda dari biasanya. Kehangatan tidak hanya hadir dari aktivitas belajar mengajar, tetapi juga dari sebuah pertemuan lintas budaya bertajuk “Crossing The Bridge: Indahnya Islam”—sebuah jembatan makna yang menghubungkan dua dunia dalam satu nilai: keindahan akhlak Islam.

Kehadiran tamu istimewa dari Miami, Florida, Amerika Serikat, menjadi momen yang tak terlupakan. Anson Jerome Gehman hadir bersama ibundanya, Bertha, dan putrinya, Sophia Gehman. Langkah mereka yang sederhana di selasar sekolah seolah membawa cerita panjang tentang pencarian, keyakinan, dan hidayah.

Bagi para siswa kelas 5 dan anggota English Study Club (ESC), berinteraksi dengan penutur asli bukanlah hal baru. Namun, hari itu memiliki makna yang jauh lebih dalam. Bukan sekadar praktik bahasa Inggris, melainkan mendengar langsung kisah perjalanan spiritual seorang mualaf.

Anson, yang memeluk Islam pada tahun 2019, membagikan kisahnya dengan penuh ketulusan. Ia mengisahkan perjalanan panjang selama dua dekade dalam mencari kebenaran.

“Semua bermula dari akhlak,” ungkap Anson. “Saya melihat teman Muslim dengan perilaku yang indah. Dari situlah saya mulai mencari, hingga akhirnya memahami bahwa misi utama Nabi Muhammad adalah menyempurnakan akhlak.”

Menurutnya, konsep ketauhidan dalam Islam serta nilai kesetaraan manusia menjadi jawaban atas kegelisahan yang selama ini ia rasakan di tengah latar belakang keluarga yang beragam keyakinan.

Dialog interaktif pun mengalir hangat. Muhammad Fakhri Rajendra Cahyono, siswa dari Oxford Class, mengajukan pertanyaan reflektif dalam bahasa Inggris, “Why did you need 20 years to be a Muslim?”

Pertanyaan tersebut disambut senyum penuh makna oleh Anson. Ia menjelaskan bahwa perjalanan itu bukan sekadar soal waktu, melainkan proses memantapkan hati sekaligus meyakinkan keluarga di tengah berbagai perbedaan. Kesabaran itu akhirnya membuahkan hasil, bahkan sang ayah turut mengikuti jejaknya memeluk Islam.

Rasa ingin tahu juga datang dari siswa lainnya. Alkhalifi Fauzy Ramadan menanyakan alasan Sophia ikut ke Indonesia. Dengan senyum hangat, Sophia mengaku ingin mengenal Islam lebih dekat melalui perjalanan tersebut.

Sementara itu, Radhwa Taqiya El Jawwadi menanyakan kesan Anson terhadap Sekolah Mumtas. Jawaban yang diberikan menjadi penutup yang menyentuh.

“Saya semakin kagum dengan Islam ketika melihat akhlak anak-anak di sini. Meski masih di bangku sekolah dasar, kalian telah menunjukkan adab yang luar biasa,” tuturnya.

Kunjungan keluarga Gehman meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh warga sekolah. Lebih dari sekadar pertemuan, momen ini menjadi pengingat bahwa Islam adalah jembatan yang melampaui batas geografis. Bahasa yang paling universal bukanlah kata-kata, melainkan akhlak dan kasih sayang yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Rachell Fattama Az Zahrah