Beranda / Dakwah / Dakwah Tanpa Mimbar, Menghadirkan Harapan: Kisah Tulus Widodo Menyapa Mereka yang Terlupakan

Dakwah Tanpa Mimbar, Menghadirkan Harapan: Kisah Tulus Widodo Menyapa Mereka yang Terlupakan

LENSADAKWAH.COM. Surabaya – Di tengah banyaknya dai yang berdakwah dari atas mimbar dengan ribuan jamaah, ada sosok yang memilih jalan berbeda. Ia adalah Tulus Widodo, seorang Dai Komunitas Muhammadiyah yang mengabdikan hidupnya untuk membersamai komunitas marginal, kaum yang sering kali tersisihkan dan luput dari perhatian.


Melalui percakapan via chat dengan Lensadakwah.com, Tulus Widodo menegaskan bahwa tekadnya untuk mendampingi masyarakat lapisan bawah tidak pernah surut sedikit pun. Baginya, dakwah kepada komunitas marginal bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan panggilan hati yang harus dijalani dengan penuh keikhlasan.
“Dakwah di komunitas kelas bawah bagi saya adalah panggilan hati,” ungkapnya.


Tulus memiliki cara pandang yang sederhana namun sangat mendalam tentang dakwah. Ia tidak memulai dengan ceramah panjang ataupun mengutip banyak ayat. Menurutnya, sebelum seseorang diajak memahami ajaran agama, hatinya harus lebih dahulu disentuh. Harapan harus dihidupkan, dan keyakinan bahwa setiap manusia memiliki masa depan harus ditanamkan.


“Saya tidak datang untuk menghakimi. Saya datang untuk memberi hati, memberi harapan, bahwa setiap hamba Allah memiliki kesempatan untuk berubah dan masa depan yang lebih baik. Di situlah kami, para dai komunitas, melangkah bersama,” tuturnya.


Baginya, mimbar bukanlah ukuran keberhasilan dakwah. Ia justru menemukan makna dakwah ketika duduk bersama mereka yang hidup dalam keterbatasan, menyapa mereka yang hampir kehilangan harapan, dan menemani orang-orang yang setiap hari bergelut dengan kerasnya kehidupan.


“Saya berdakwah tanpa mimbar dan tanpa ayat. Saya juga tidak berdiri di depan jamaah yang ratusan, apalagi ribuan. Jamaah saya adalah mereka yang hidup dalam komunitas yang tidur tanpa alas dan tanpa bantal. Di sanalah saya belajar bahwa dakwah adalah menghadirkan kasih sayang Allah melalui kepedulian nyata,” ujarnya.


Kisah Tulus Widodo menjadi pengingat bahwa dakwah tidak selalu dimulai dengan mikrofon yang lantang atau panggung yang megah. Dakwah dapat dimulai dari langkah kaki yang mendatangi mereka yang terlupakan, dari tangan yang menggenggam orang yang putus asa, dan dari hati yang tulus menemani mereka yang merasa sendirian.


Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, semangat yang ditunjukkan Tulus Widodo membuktikan bahwa dakwah sejati adalah menghadirkan harapan di tempat yang nyaris kehilangan cahaya. Sebab, bagi seorang dai komunitas, keberhasilan bukan diukur dari banyaknya tepuk tangan, melainkan dari satu hati yang kembali yakin bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.admin