Beranda / News / FKPT JATIM AJAK ORANG TUA BENTENGI ANAK DARI BAHAYA NARKOBA DAN RADIKALISME

FKPT JATIM AJAK ORANG TUA BENTENGI ANAK DARI BAHAYA NARKOBA DAN RADIKALISME

Surabaya – Kepala Bidang Penelitian Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, Muchamad Arifin, mengajak para orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dua ancaman serius yang dapat merusak masa depan generasi, yakni penyalahgunaan narkoba dan paparan paham radikalisme. Pesan tersebut disampaikan dalam Pengajian Rutin Ahad Pagi di Masjid Baitul Jamil, Perumahan Taman Manyar Indah, Surabaya, Ahad (12/7/2026), yang dihadiri ratusan jamaah, mayoritas ibu-ibu.

Dalam kajian yang berlangsung interaktif dengan dukungan multimedia tersebut, Muchamad Arifin menegaskan bahwa tantangan orang tua saat ini semakin kompleks. Selain harus menghadapi perkembangan teknologi dan media sosial, keluarga juga dituntut mampu melindungi anak-anak dari berbagai ancaman yang dapat merusak masa depan mereka.

Menurutnya, penyalahgunaan narkoba tidak hanya menghancurkan kesehatan fisik dan mental seseorang, tetapi juga menghilangkan masa depan generasi. Korban narkoba berpotensi kehilangan semangat belajar, terputus dari pendidikan, terjerumus dalam tindak kriminal, hingga merusak hubungan dengan keluarga. Karena itu, ia mengingatkan agar orang tua tidak pernah menganggap persoalan narkoba hanya terjadi di lingkungan tertentu.

“Anak-anak kita adalah target. Karena itu, orang tua harus memahami berbagai modus penyalahgunaan narkoba yang terus berkembang. Jangan hanya mengawasi, tetapi bangun komunikasi yang hangat sehingga anak merasa aman untuk bercerita kepada orang tuanya,” ujar Muchamad Arifin.

Sebagai Kabid Penelitian FKPT Jawa Timur, ia juga mengingatkan bahaya radikalisme, terutama penyebaran paham yang memanfaatkan ruang digital untuk memengaruhi generasi muda. Menurutnya, proses paparan radikalisme sering kali berlangsung secara perlahan melalui konten media sosial, grup percakapan, maupun narasi yang tampak menarik, namun mengandung ajakan untuk membenci, memusuhi pihak lain, atau membenarkan tindakan kekerasan.

“Radikalisme tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan. Ia sering diawali dari cara berpikir yang eksklusif, mudah menyalahkan orang lain, menolak perbedaan, hingga akhirnya menganggap kekerasan sebagai jalan penyelesaian. Karena itu, kita harus mampu mengenali gejala-gejalanya sejak dini,” jelasnya.

Muchamad Arifin menegaskan bahwa meskipun berbeda bentuk, penyalahgunaan narkoba dan paparan radikalisme memiliki dampak yang sama-sama berbahaya bagi bangsa. Narkoba merusak fisik, mental, dan produktivitas generasi muda, sedangkan radikalisme merusak cara berpikir, karakter, serta komitmen kebangsaan. Keduanya dapat menghilangkan potensi anak-anak untuk tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, upaya pencegahan harus dimulai dari keluarga. Orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga harus menghadirkan pendidikan agama yang benar, membangun kedekatan emosional, mengawasi aktivitas digital anak, serta menanamkan nilai-nilai Islam yang moderat, cinta damai, dan menghargai perbedaan.

“Rumah adalah benteng pertama. Ketika anak mendapatkan kasih sayang, pendidikan agama yang benar, dan ruang dialog yang sehat di dalam keluarga, mereka akan lebih kuat menghadapi berbagai pengaruh negatif dari luar,” tegasnya.

Ia juga mengajak para ibu untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menutup diri dari keluarga, perubahan emosi yang drastis, memilih lingkungan pergaulan yang tidak sehat, atau menghabiskan waktu tanpa pengawasan di dunia digital. Menurutnya, kepekaan orang tua menjadi salah satu kunci utama dalam mencegah anak terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba maupun paparan paham radikal.

Di akhir kajiannya, Muchamad Arifin mengajak seluruh jamaah menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat dan keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak-anak. Ia menegaskan bahwa menjaga generasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aparat keamanan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.

“Menyelamatkan satu anak dari narkoba berarti menyelamatkan masa depannya. Menyelamatkan satu anak dari paham radikalisme berarti menjaga persatuan bangsa. Dan semua itu berawal dari keluarga yang kuat, orang tua yang peduli, serta pendidikan agama yang menyejukkan dan mencerahkan,” pungkasnya.