Beranda / News / Kajian Ahad Pagi di Masjid Baitul Jamil: Menjaga Keluarga dari Ancaman Zaman

Kajian Ahad Pagi di Masjid Baitul Jamil: Menjaga Keluarga dari Ancaman Zaman

Suasana Pengajian Rutin Ahad Pagi di Masjid Baitul Jamil, Surabaya, berlangsung hangat dan penuh antusias. Ratusan jamaah yang mayoritas adalah para ibu memenuhi ruang utama masjid untuk mengikuti kajian yang disampaikan oleh Ustadz Muchamad Arifin. Dalam tausiahnya, beliau mengingatkan bahwa peran seorang ibu bukan hanya mengurus rumah tangga, tetapi juga menjadi benteng pertama dalam menjaga akidah, akhlak, dan masa depan anak-anak dari berbagai ancaman yang semakin nyata di era digital.

Salah satu ancaman yang menjadi perhatian adalah penyalahgunaan narkoba. Ustadz Muchamad Arifin menjelaskan bahwa narkoba tidak hanya merusak kesehatan fisik dan mental, tetapi juga menghancurkan masa depan generasi muda. Banyak anak kehilangan semangat belajar, terjerumus dalam tindakan kriminal, bahkan merusak hubungan keluarga akibat ketergantungan narkoba. Karena itu, orang tua harus membangun komunikasi yang hangat dengan anak, mengenali lingkungan pergaulannya, menanamkan nilai-nilai agama sejak dini, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Rumah yang dipenuhi kasih sayang dan pendidikan agama akan menjadi benteng yang kuat dari pengaruh narkoba.

Beliau juga mengingatkan bahaya judi online yang kini semakin mudah diakses melalui telepon genggam. Judi online sering kali berawal dari rasa penasaran, namun perlahan berubah menjadi kecanduan yang menghabiskan harta, merusak keharmonisan rumah tangga, menimbulkan utang, hingga memicu tindak kriminal. Ustadz Muchamad Arifin mengajak para orang tua untuk mengawasi penggunaan gawai anak-anak, membiasakan literasi digital yang sehat, mengisi waktu luang dengan kegiatan positif, serta menanamkan keyakinan bahwa rezeki yang halal hanya diperoleh melalui usaha dan kerja keras, bukan melalui jalan instan yang dilarang agama.

Selain itu, beliau mengingatkan pentingnya mewaspadai berbagai penyimpangan perilaku dan pergaulan bebas, termasuk fenomena LGBT, yang menurut pandangan Islam tidak sejalan dengan ajaran syariat. Beliau menekankan bahwa sikap seorang Muslim adalah menjaga nilai-nilai agama sekaligus tetap memperlakukan setiap manusia dengan akhlak yang baik dan tidak melakukan perundungan. Upaya pencegahan dimulai dari keluarga melalui penguatan akidah, pendidikan karakter, kedekatan emosional antara orang tua dan anak, serta membimbing anak agar memahami identitas dirinya sesuai fitrah yang diajarkan agama.

Menutup tausiahnya, Ustadz Muchamad Arifin mengajak seluruh jamaah, khususnya para ibu, untuk kembali menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi anak-anak. Menurut beliau, keluarga yang dipenuhi iman, kasih sayang, doa, dan keteladanan akan melahirkan generasi yang tangguh menghadapi berbagai tantangan zaman. “Anak-anak tidak hanya membutuhkan makanan untuk tubuhnya, tetapi juga membutuhkan makanan untuk jiwanya, yaitu iman, akhlak, dan kasih sayang dari kedua orang tuanya,” pesannya.

Kajian ini diharapkan menjadi pengingat bahwa menjaga keluarga bukan hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga memperkuat fondasi agama agar lahir generasi yang beriman, berakhlak mulia, cerdas, serta mampu menjadi penerus bangsa yang membawa keberkahan bagi masyarakat.