Surabaya, 10 Juli 2026 – Memasuki tahun ajaran baru, para orang tua diingatkan bahwa kesuksesan anak tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga oleh kokohnya iman dan akhlak yang ditanamkan sejak dini. Pesan tersebut menjadi inti Kajian Ba’da Maghrib yang diselenggarakan di Masjid Al Hakim, Sidotopo Wetan Mulia, Surabaya, Jumat (10/7/2026), dengan menghadirkan Ust. Muchamad Arifin sebagai pemateri.

Mengangkat tema “Peran Orang Tua dalam Menjaga Iman dan Masa Depan Anak”, kajian berlangsung hangat dan interaktif. Puluhan jamaah yang didominasi para orang tua mengikuti materi dengan penuh perhatian karena dinilai sangat relevan menjelang dimulainya aktivitas belajar di sekolah.
Dalam pemaparannya, Ust. Muchamad Arifin menegaskan bahwa Al-Qur’an telah memberikan panduan yang sangat lengkap mengenai pendidikan keluarga melalui nasihat Luqman kepada putranya sebagaimana termaktub dalam QS. Luqman.
Menurutnya, pelajaran pertama yang harus ditanamkan kepada anak adalah tauhid. Ia mengutip QS. Luqman ayat 13 yang mengingatkan agar anak dijauhkan dari perbuatan syirik karena merupakan kezaliman yang sangat besar. “Iman adalah fondasi utama kehidupan. Sebelum anak diajarkan berbagai ilmu, yang paling utama adalah mengenalkan Allah dan menanamkan kecintaan kepada-Nya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ust. Arifin menjelaskan bahwa orang tua merupakan sekolah pertama bagi anak. Oleh karena itu, pendidikan tidak cukup hanya melalui nasihat, tetapi harus diwujudkan dalam keteladanan. Sikap jujur, disiplin, santun, dan penuh kasih sayang yang diperlihatkan orang tua setiap hari akan menjadi pelajaran yang paling mudah ditiru oleh anak-anak.
Beliau kemudian menguraikan pesan QS. Luqman ayat 17 yang memerintahkan agar anak dibiasakan mendirikan salat. Menurutnya, salat bukan hanya kewajiban ritual, melainkan sarana membangun kedisiplinan, kedekatan kepada Allah, sekaligus benteng yang menjaga anak dari berbagai pengaruh negatif di tengah perkembangan zaman.
Selain membangun hubungan dengan Allah, orang tua juga harus menanamkan kepedulian sosial kepada anak melalui pendidikan amar makruf nahi mungkar. Anak perlu dibiasakan mencintai kebaikan, peduli terhadap sesama, serta memiliki keberanian untuk mengajak kepada yang benar dan mencegah kemungkaran dengan cara yang bijaksana.
Dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, kesabaran juga menjadi karakter penting yang harus diwariskan kepada generasi muda. Ust. Arifin menjelaskan bahwa anak yang memiliki kesabaran akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah putus asa, serta mampu menghadapi berbagai ujian kehidupan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.
Kajian juga menyoroti pentingnya pendidikan akhlak sebagaimana terkandung dalam QS. Luqman ayat 18–19. Orang tua diminta membimbing anak agar menjauhi sifat sombong, membiasakan rendah hati, berbicara dengan santun, serta hidup sederhana. Menurutnya, kecerdasan intelektual akan semakin bernilai apabila dibarengi dengan akhlak yang mulia.
“Rumah adalah madrasah pertama. Ayah dan ibu adalah guru pertama yang akan menentukan arah kehidupan anak. Jika iman ditanamkan sejak kecil, insya Allah anak akan memiliki bekal terbaik dalam menghadapi masa depannya,” tutur Ust. Muchamad Arifin.
Menutup kajian, beliau mengajak seluruh orang tua untuk menjadikan momen tahun ajaran baru sebagai awal memperkuat pendidikan iman di dalam keluarga. Tidak cukup hanya mempersiapkan seragam, buku, dan perlengkapan sekolah, tetapi yang jauh lebih penting adalah membekali anak dengan akidah yang benar, ibadah yang kokoh, akhlak yang mulia, serta keteladanan dari kedua orang tuanya.
Kajian tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sekolah, melainkan berawal dari keluarga yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Dengan meneladani nasihat Luqman kepada putranya, diharapkan lahir generasi muslim yang cerdas, berakhlak mulia, kuat imannya, serta mampu memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.





