LENSADAKWAH.COM – Sidoarjo. Ratusan jamaah memadati Masjid Al Ikrom Wage, Sidoarjo, dalam pelaksanaan Shalat Khusuf (gerhana bulan) yang berlangsung dengan khidmat dan penuh kekhusyukan. Di tengah suasana malam yang syahdu, mengingatkan setiap hati bahwa peristiwa langit bukan sekadar fenomena alam, melainkan tanda kebesaran Allah SWT.

Dalam khutbahnya, Ketua LDK PP Muhammadiyah, Muchamad Arifin, menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi dan di jagat raya ini bergerak atas kehendak Allah. Tidak ada satu pun yang diam. Planet, bintang, bulan, dan matahari semuanya berjalan pada orbitnya masing-masing dalam keteraturan yang sempurna.
Beliau menjelaskan bahwa gerhana bulan terjadi ketika posisi bumi berada di antara matahari dan bulan, sehingga cahaya matahari yang seharusnya dipantulkan oleh bulan terhalang oleh bumi. Namun di balik penjelasan ilmiah tersebut, tersimpan pelajaran iman yang mendalam: semua keteraturan itu terjadi karena kuasa Allah. Tidak ada yang saling bertabrakan, tidak ada yang keluar dari garis edarnya, karena semuanya tunduk pada kehendak Sang Maha Kuasa.
“Gerhana bulan tidak ada hubungannya dengan musibah atau kejadian tertentu,” tegasnya. “Ia terjadi semata-mata karena kekuasaan dan kehendak Allah. Justru melalui peristiwa ini Allah mengingatkan kita akan kebesaran-Nya dan keterbatasan kita sebagai manusia.”
Suasana masjid pun semakin hening ketika beliau mengajak jamaah untuk merenung. Jika benda-benda langit saja patuh pada aturan Allah, maka sudah seharusnya manusia yang diberi akal dan hati lebih tunduk lagi kepada-Nya.
Kekhusyukan jamaah semakin terasa ketika doa khutbah dipanjatkan. Dengan suara yang bergetar dan penuh pengharapan, doa-doa mengalir menyentuh relung hati. Banyak jamaah yang menundukkan kepala lebih dalam, sebagian terisak lirih, larut dalam munajat yang khusyuk dan penuh makna. Malam itu, seakan setiap jiwa sedang berbicara langsung kepada Rabb-nya, memohon ampun, keberkahan, dan keteguhan iman.
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, Ustadz Muchamad Arifin juga mengingatkan pentingnya menyempurnakan ibadah. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi proses penyucian jiwa menuju derajat takwa sebagaimana tujuan Allah memerintahkan puasa. Ramadhan adalah madrasah ruhani, tempat hati ditempa agar semakin lembut, semakin taat, dan semakin dekat dengan-Nya.
Shalat Khusuf malam itu bukan hanya menjadi rangkaian ibadah, tetapi juga momentum muhasabah. Jamaah pulang dengan hati yang lebih teduh, membawa kesadaran bahwa di balik gelapnya bayangan bumi yang menutupi bulan, ada cahaya iman yang seharusnya semakin terang di dalam dada.