LENSADAKWAH.COM. Surabaya – Suasana Pondok Ramadhan 1447 H di SMA Muhammadiyah 1 Surabaya pada Kamis (26/2/2026) terasa berbeda. Ratusan pelajar mengikuti kajian penuh antusias dengan tema “Peran Pelajar dalam Literasi Dakwah Digital”. Kegiatan ini menghadirkan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustad Muchamad Arifin, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Ustad Arifin menegaskan bahwa pelajar SMA hari ini adalah generasi yang sangat dekat dengan gadget. Namun kedekatan itu, menurutnya, jangan sampai membuat pelajar kehilangan arah. “Gadget harus menjadi media penembus cita-cita dan harapan masa depan, bukan justru menjadi penghambat,” tegasnya di hadapan peserta Darul Arqam.
Ia mengajak para pelajar untuk menjadi pemain, bukan sekadar penonton, di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi yang serba digital. Menurutnya, masa depan generasi muda sangat ditentukan oleh bagaimana mereka memanfaatkan perangkat yang ada di genggaman tangan. “Hari ini gadget yang ada di tangan kita merupakan bagian dari penentu masa depan. Ketika kita bisa mengambil manfaatnya, sungguh luar biasa. Tetapi sebaliknya, jika tidak bijak menggunakannya, bisa menjerumuskan pada masa depan yang suram,” ujarnya.
Ustad Arifin juga mendorong para siswa untuk memanfaatkan berbagai aplikasi sebagai sarana belajar, berdakwah, dan mengembangkan potensi diri. Media sosial, platform video, hingga aplikasi pembelajaran, menurutnya, dapat menjadi pemacu keberhasilan meraih cita-cita jika digunakan secara produktif.
Kajian yang diselingi dengan beberapa video penguat materi membuat suasana semakin hidup. Para peserta tampak mengikuti pemaparan dengan serius sekaligus antusias. Sesekali terdengar tawa dan tepuk tangan ketika contoh-contoh konkret penggunaan media digital dalam dakwah ditampilkan.
Pondok Ramadhan kali ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi juga momentum refleksi bagi para pelajar untuk menata ulang cara mereka berinteraksi dengan dunia digital. Pesan yang menguat dari kegiatan tersebut jelas: di era teknologi yang terus melaju, pelajar Muhammadiyah harus mampu menjadikan gadget sebagai alat perjuangan, bukan sekadar hiburan.
Dengan semangat Ramadhan, para peserta diharapkan pulang tidak hanya membawa catatan materi, tetapi juga kesadaran baru bahwa masa depan mereka, salah satunya, sedang mereka genggam hari ini.