Surabaya, 8 Juli 2026 – Kajian Inspiratif Subuh (KIS) yang diselenggarakan setiap Rabu ba’da Subuh di Masjid Attaqwa Pogot, Surabaya, kembali mengajak jamaah menata orientasi hidup. Dalam kajian yang diasuh oleh Ust. Muchamad Arifin tersebut, tema yang diangkat adalah “Dunia di Tangan, Akhirat di Hati”, sebuah ajakan untuk menempatkan dunia sebagai sarana, bukan tujuan akhir kehidupan.

Dalam penyampaiannya, Ust. Muchamad Arifin menjelaskan bahwa Islam tidak pernah melarang umatnya untuk bekerja keras, menjadi kaya, maupun meraih keberhasilan dunia. Namun, Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak terjebak menjadikan dunia sebagai pusat kecintaan yang melalaikan kehidupan akhirat.
Allah Swt. berfirman:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam banyaknya harta dan anak…” (QS. Al-Hadid: 20).
Ayat tersebut menggambarkan bahwa seluruh kemegahan dunia bersifat sementara. Jabatan, harta, popularitas, dan segala bentuk kenikmatan dunia pada akhirnya akan sirna. Tidak ada satu pun yang abadi selain Allah dan kehidupan akhirat yang menjadi tempat kembali seluruh manusia.
Menurutnya, dalam perspektif Islam, dunia memiliki fungsi sebagai ladang amal. Di sinilah manusia diberi kesempatan untuk beribadah, berbuat baik, menebar manfaat, serta mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal. Karena itu, yang keliru bukanlah memiliki dunia, melainkan ketika dunia justru memiliki hati manusia.
“Dunia boleh berada di tangan kita, tetapi jangan sampai masuk ke dalam hati. Ketika dunia berada di tangan, ia menjadi alat untuk beribadah, membantu sesama, dan menebarkan kemaslahatan. Namun ketika dunia memenuhi hati, manusia akan mudah diperbudak oleh ambisi, keserakahan, dan rasa takut kehilangan,” ujar Ust. Muchamad Arifin.
Secara ilmiah, materi kajian ini juga sejalan dengan berbagai temuan dalam psikologi kebahagiaan yang menunjukkan bahwa orientasi hidup yang semata-mata mengejar materi tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan. Sebaliknya, individu yang memiliki makna hidup, nilai spiritual, dan tujuan transenden cenderung lebih mampu menghadapi tekanan hidup serta memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Islam telah lebih dahulu mengajarkan keseimbangan tersebut dengan menjadikan akhirat sebagai orientasi utama tanpa mengabaikan ikhtiar dunia.
Kajian ini mengajak jamaah untuk membangun paradigma hidup yang proporsional. Dunia harus dikelola dengan kerja keras, profesionalisme, dan tanggung jawab, namun hati tetap terpaut kepada Allah Swt. serta kehidupan akhirat yang kekal. Dengan demikian, keberhasilan dunia tidak melahirkan kesombongan, dan kegagalan dunia tidak menimbulkan keputusasaan.
Melalui Kajian Inspiratif Subuh (KIS) yang rutin dilaksanakan setiap Rabu ba’da Subuh, Masjid Attaqwa Pogot terus berupaya menghadirkan kajian yang relevan dengan tantangan kehidupan modern. Di tengah derasnya arus materialisme dan budaya kompetisi, jamaah diajak untuk kembali meneguhkan prinsip bahwa dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah kampung halaman yang sesungguhnya.
Pesan utama kajian pagi ini dapat dirangkum dalam satu kalimat sederhana namun mendalam: “Genggamlah dunia dengan tanganmu, tetapi simpanlah akhirat di dalam hatimu.”





