Beranda / News / Model Dakwah Kekinian: Merangkul, Bukan Mendengkul

Model Dakwah Kekinian: Merangkul, Bukan Mendengkul

Surabaya – Dakwah di era yang terus berubah menuntut para juru dakwah untuk tidak hanya pandai berbicara di atas mimbar, tetapi juga mampu memahami kebutuhan umat yang menjadi sasaran dakwahnya. Pesan itulah yang mengemuka dalam program Ngaso (Ngaji Sore) yang ditayangkan tvMu Jatim 1, Ahad (5/7/2026), dengan tema “Model Dakwah Kekinian: Merangkul Bukan Mendengkul.”

Dipandu oleh Ahmad Nur Muhaimin, S.Ud., dialog berlangsung hangat dan penuh gagasan segar bersama narasumber Dr. (Cand.) Muchamad Arifin, M.Ag., Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Mengawali dialog, Muhaimin mengajukan pertanyaan yang menjadi kegelisahan banyak aktivis dakwah saat ini, “Seperti apa model dakwah kekinian yang paling tepat di tengah masyarakat yang semakin beragam?”

Menjawab pertanyaan tersebut, Muchamad Arifin menegaskan bahwa dakwah masa kini bukanlah dakwah yang memaksakan kehendak, melainkan dakwah yang hadir sesuai kebutuhan masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.

Menurutnya, Al-Qur’an telah memberikan pedoman yang sangat jelas melalui QS. An-Nahl ayat 125, yang mengajarkan agar dakwah dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, serta dialog yang santun. Ayat tersebut menjadi fondasi bahwa dakwah sejatinya adalah proses mengajak manusia menuju kebaikan dengan pendekatan yang bijaksana, bukan dengan cara yang keras ataupun menyalahkan.

“Dakwah yang berhasil adalah dakwah yang mampu memahami siapa yang sedang dihadapi. Seorang dai harus mampu memotret kondisi jamaah atau komunitasnya terlebih dahulu. Dari sanalah materi, pendekatan, bahkan cara berkomunikasi ditentukan,” jelas Arifin.

Ia menambahkan, keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berbicara, tetapi sangat bergantung pada kemampuan membaca realitas sosial masyarakat. Ketika seorang dai memahami kebutuhan, tantangan, dan latar belakang komunitasnya, maka pesan dakwah akan lebih mudah diterima dan membuahkan perubahan.

Dalam dialog tersebut, Arifin juga menjelaskan pembagian peran juru dakwah di lingkungan Muhammadiyah yang sering kali belum banyak dipahami masyarakat.

Menurutnya, Muhammadiyah memiliki dua model penggerak dakwah.

Pertama, Muballigh, yang berada di bawah naungan Majelis Tabligh. Tugas utamanya lebih banyak berdakwah melalui mimbar-mimbar masjid, pengajian, maupun majelis taklim dengan jamaah yang pada umumnya telah siap menerima materi keagamaan.

Sementara itu, yang kedua adalah Dai Komunitas, yang berada di bawah pembinaan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Muhammadiyah. Para dai komunitas lebih banyak bergerak di luar mimbar, menjangkau kelompok-kelompok masyarakat yang sering kali belum tersentuh dakwah, seperti masyarakat adat, komunitas marginal, kawasan terpencil, mualaf, pekerja informal, hingga berbagai komunitas dengan karakter sosial yang beragam.

“Dai komunitas tidak bisa datang hanya membawa ceramah. Mereka harus membawa solusi, membangun kepercayaan, menjadi sahabat masyarakat, baru kemudian menyampaikan nilai-nilai Islam,” ungkapnya.

Karena itu, lanjut Arifin, seorang dai yang akan terjun ke tengah komunitas harus mempersiapkan diri dengan baik. Tidak cukup hanya menguasai materi agama, tetapi juga memahami karakter masyarakat yang akan didampingi.

“Kalau materi dakwah tidak sesuai dengan kebutuhan mereka, besar kemungkinan dakwah itu akan ditolak. Namun jika dai mampu memahami persoalan masyarakat dan menghadirkan Islam sebagai solusi, maka dakwah akan diterima dengan lapang hati,” ujarnya.

Tema “Merangkul, Bukan Mendengkul” yang diangkat dalam Ngaji Sore kali ini menjadi penegasan bahwa dakwah Islam pada hakikatnya adalah dakwah yang menghadirkan kasih sayang, membangun harapan, dan membuka ruang dialog. Dakwah bukan untuk menghakimi, apalagi menjauhkan masyarakat, melainkan mengajak dengan keteladanan, kepedulian, dan pendekatan yang menggembirakan.

Dialog yang berlangsung santai namun sarat makna tersebut memberikan perspektif baru bahwa tantangan dakwah masa kini bukan semata-mata bagaimana menyampaikan pesan agama, melainkan bagaimana menghadirkan Islam secara relevan di tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah. Dengan memahami kondisi sasaran dakwah, memilih metode yang tepat, dan mengedepankan hikmah sebagaimana tuntunan Al-Qur’an, dakwah akan menjadi jalan yang menyejukkan, merangkul, dan menghadirkan rahmat bagi semua.

“Dakwah bukan sekadar menyampaikan. Dakwah adalah menghadirkan Islam sesuai kebutuhan manusia, sehingga mereka merasakan bahwa agama datang membawa solusi, bukan beban.” Demikian pesan yang menjadi benang merah dialog inspiratif dalam program Ngaso (Ngaji Sore) tvMu edisi Ahad sore tersebut.