SURABAYA, LENSADAKWAH.COM – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momentum strategis untuk menanamkan nilai-nilai karakter sekaligus membangun ketahanan generasi muda dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Komitmen itu diwujudkan SMA Al Irsyad Surabaya dengan menghadirkan Kabid Penelitian Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, Muchamad Arifin, sebagai narasumber pada kegiatan pemantapan peserta didik baru, Kamis (16/7/2026).

Di hadapan ratusan siswa baru, Muchamad Arifin mengajak para pelajar untuk tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat agar mampu menghadapi berbagai ancaman yang kini banyak menyasar kalangan remaja, mulai dari bullying, penyebaran paham-paham menyimpang, hingga penyalahgunaan narkoba.
Menurutnya, ketiga persoalan tersebut merupakan tantangan nyata yang harus diantisipasi sejak dini karena dapat menghambat tumbuh kembang generasi dan merusak masa depan bangsa.
“Generasi emas tidak cukup hanya cerdas. Mereka juga harus memiliki akhlak yang baik, kepedulian terhadap sesama, kemampuan berpikir kritis, serta keberanian menolak segala bentuk perilaku yang merusak masa depan,” ujar Muchamad Arifin.
Dalam paparannya, Arifin menyoroti fenomena bullying yang masih kerap terjadi di lingkungan pendidikan. Ia mengingatkan bahwa perundungan, baik secara fisik, verbal maupun melalui media sosial, bukanlah sekadar candaan, melainkan tindakan yang dapat meninggalkan luka psikologis, menurunkan rasa percaya diri, bahkan memengaruhi masa depan korban.
Ia mengajak seluruh peserta didik untuk membangun budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan penuh persaudaraan.
Selain itu, sebagai Kabid Penelitian FKPT Jawa Timur, Arifin juga mengingatkan pelajar agar mewaspadai berkembangnya paham-paham menyimpang yang kini semakin mudah menyasar generasi muda melalui ruang digital. Menurutnya, derasnya arus informasi harus diimbangi dengan kemampuan menyaring informasi, memperkuat literasi digital, serta menjadikan nilai-nilai agama, Pancasila, dan kebangsaan sebagai pedoman dalam bersikap.
“Media sosial memberikan banyak manfaat, tetapi juga menyimpan berbagai risiko. Jangan mudah menerima informasi tanpa melakukan tabayun dan jangan sampai terpengaruh oleh ajakan atau pemikiran yang bertentangan dengan nilai agama, kemanusiaan, dan persatuan bangsa,” pesannya.
Pada kesempatan tersebut, Muchamad Arifin yang juga dikenal sebagai Motivator Nasional Bidang Pencegahan Narkotika dan perancang display bahan ajar P4GN (Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan serta Peredaran Gelap Narkotika) turut mengupas berbagai modus peredaran gelap narkoba yang kini semakin kompleks.
Melalui tayangan multimedia yang menampilkan fakta lapangan dan kasus-kasus aktual, para peserta diajak mengenali berbagai cara yang digunakan jaringan narkotika untuk menjebak remaja, mulai dari penyalahgunaan pergaulan, media sosial, hingga berbagai modus yang dikemas seolah-olah tidak berbahaya.
Ia menjelaskan bahwa penyalahgunaan narkoba membawa dampak yang sangat luas, tidak hanya merusak kesehatan fisik dan mental, tetapi juga menghancurkan hubungan sosial, mengancam masa depan pendidikan, menimbulkan persoalan hukum, hingga merenggut cita-cita para generasi muda.
“Jangan pernah mencoba narkoba dengan alasan apa pun. Sekali terjerat, dampaknya bisa menghancurkan masa depan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Prestasi, keluarga, dan cita-cita dapat hilang dalam sekejap,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala SMA Al Irsyad Surabaya, M. Ainur Rohim, menyampaikan bahwa pendidikan di SMA Al Irsyad tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik sesuai kurikulum nasional, tetapi juga memberikan perhatian besar terhadap pembentukan akhlak dan karakter peserta didik.
“Kami ingin lulusan SMA Al Irsyad menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak mulia, memiliki kepedulian sosial, serta mampu menjaga dirinya dari berbagai pengaruh negatif. Karena itu, pembekalan mengenai bullying, paham menyimpang, dan bahaya narkoba menjadi bagian dari ikhtiar kami dalam membangun generasi yang tangguh,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung dengan penuh antusias. Para peserta aktif mengikuti materi, menyimak tayangan multimedia, dan berdialog mengenai berbagai persoalan yang sering dihadapi remaja di era digital.
Melalui sinergi antara dunia pendidikan dan FKPT Jawa Timur, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter yang kokoh, cinta tanah air, menghargai sesama, serta mampu menjadi pelopor dalam mencegah bullying, menangkal paham menyimpang, dan menolak penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekitarnya.





