Bersama: Ustad Muchamad Arifin
Surabaya, 15 Juli 2026 – Kajian Inspiratif Subuh (KIS) yang diselenggarakan setiap Rabu pagi di Masjid Attaqwa Pogot Surabaya kembali dipenuhi jamaah. Pada kajian kali ini, Ust. Muchamad Arifin mengangkat tema yang sangat relevan dengan momentum tahun ajaran baru, yakni “Peran Ibu dalam Menjaga dan Mengantarkan Anak Menuju Masa Depan yang Lebih Baik.”

Dalam tausiyahnya, Ust. Muchamad Arifin mengingatkan bahwa setiap anak adalah amanah dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, orang tua, khususnya seorang ibu, memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Mengawali kajiannya, beliau mengutip nasihat Luqman kepada putranya dalam QS. Luqman ayat 13, “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.” Ayat ini menunjukkan bahwa bekal pertama yang harus diberikan kepada anak adalah iman dan tauhid, karena iman merupakan fondasi utama yang akan menjadi penuntun dalam setiap langkah kehidupannya.
Selanjutnya, beliau menekankan pentingnya memilihkan lingkungan yang baik bagi anak. Menurutnya, lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan karakter. Teman bergaul, lingkungan sekolah, hingga pergaulan di dunia digital akan sangat menentukan arah perkembangan anak. “Salah memilih lingkungan dapat membawa dampak yang sangat fatal bagi masa depan mereka,” pesannya.
Pilar berikutnya adalah memberikan pendidikan yang baik, tidak hanya mengejar kecerdasan akademik, tetapi juga pendidikan yang membimbing anak agar sukses dalam urusan dunia sekaligus selamat di akhirat. Hal ini sejalan dengan nasihat Luqman dalam QS. Luqman ayat 17, “Wahai anakku, dirikanlah salat, suruhlah berbuat yang makruf, cegahlah dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” Pendidikan yang baik akan melahirkan pribadi yang kuat, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Pada bagian akhir kajian, Ust. Muchamad Arifin menegaskan bahwa akhlak adalah mahkota kehidupan. Setinggi apa pun pendidikan seseorang dan sebanyak apa pun prestasi yang diraih, semuanya akan kehilangan makna apabila tidak dihiasi dengan akhlak yang mulia. Beliau mengutip QS. Luqman ayat 18–19, yang mengajarkan agar tidak sombong, bersikap rendah hati, berjalan dengan sederhana, dan bertutur kata dengan lembut. “Anak yang berprestasi tetapi kehilangan akhlak akan mudah lupa bahwa dirinya adalah hamba Allah,” tegasnya.
Mengakhiri kajian, beliau mengajak seluruh orang tua untuk menjadikan rumah sebagai madrasah pertama bagi anak-anak. Di tengah derasnya arus informasi, penyalahgunaan narkoba, judi online, dan berbagai penyimpangan moral yang mengancam generasi muda, keluarga harus menjadi benteng utama dengan menanamkan iman yang kokoh, lingkungan yang baik, pendidikan yang benar, dan akhlak yang mulia. Dengan empat bekal tersebut, insya Allah akan lahir generasi yang tidak hanya sukses di dunia, tetapi juga memperoleh kebahagiaan di akhirat. Tim kreatif





