Bersama: Ustad Muchamad Arifin
SURABAYA — Menjaga persatuan merupakan bagian dari menjalankan perintah agama sekaligus bentuk nyata menjaga amanah kemerdekaan. Pesan tersebut menjadi pokok bahasan Kajian Inspiratif Subuh (KIS) Masjid Attaqwa Pogot Surabaya, Rabu (19/8/2026), yang diasuh Ustaz Muchamad Arifin dengan tema “Menjaga Amanah Kemerdekaan dengan Menjaga Persatuan.”

Di hadapan jamaah KIS, Ustaz Muchamad Arifin mengajak umat Islam untuk tidak memandang persatuan hanya sebagai persoalan sosial dan kebangsaan. Dalam Islam, persatuan merupakan bagian dari ajaran agama yang diperintahkan Allah SWT, sedangkan perpecahan merupakan sesuatu yang harus dihindari.
Menurut Ustaz Muchamad Arifin, kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan para pendahulu harus dijaga dengan membangun kehidupan yang rukun, saling menghormati, dan memperkuat persaudaraan.
“Kalau kemerdekaan dahulu diperjuangkan dengan persatuan, maka kemerdekaan hari ini harus dijaga dengan persatuan. Jangan sampai nikmat kemerdekaan yang diwariskan para pejuang justru kita rusak dengan pertengkaran, kebencian dan perpecahan,” terang Ustaz Muchamad Arifin.
Allah Memerintahkan Persatuan
Ustaz Muchamad Arifin kemudian mengajak jamaah merenungkan firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran ayat 103:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)
Menurut Ustaz Muchamad Arifin, ayat tersebut sangat jelas memberikan dua pesan penting: berpegang teguh kepada tali Allah dan jangan bercerai-berai.
Persatuan dalam Islam bukan berarti menghilangkan perbedaan. Persatuan berarti menjadikan perbedaan sebagai sesuatu yang tidak menghalangi persaudaraan dan kerja bersama dalam kebaikan.
Allah SWT bahkan mengingatkan manusia bahwa persatuan merupakan sebuah nikmat:
“Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.”
(QS. Ali Imran: 103)
“Perhatikan ayat ini. Allah menyebut persatuan sebagai nikmat. Maka jangan kita sia-siakan nikmat persatuan. Jangan karena perbedaan pilihan, pendapat, organisasi, kepentingan atau persoalan dunia, kemudian kita saling membenci dan memutus persaudaraan,” pesan Ustaz Muchamad Arifin.
Perpecahan Menghilangkan Kekuatan
Ustaz Muchamad Arifin juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an memberikan peringatan keras terhadap pertikaian dan perpecahan.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.”
(QS. Al-Anfal: 46)
Ayat tersebut, menurut Ustaz Muchamad Arifin, menunjukkan bahwa perpecahan bukan hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga dapat menghilangkan kekuatan sebuah umat dan bangsa.
“Kalau kita terus bertengkar, energi kita habis untuk saling menjatuhkan. Akhirnya kita lupa bahwa masih banyak persoalan besar yang harus kita selesaikan bersama,” tutur Ustaz Muchamad Arifin.
Islam justru mengajarkan umatnya untuk saling menguatkan. Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Karena itu, Ustaz Muchamad Arifin mengingatkan bahwa persaudaraan tidak boleh berhenti sebagai ucapan. Persaudaraan harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati, saling menolong dan menjaga kehormatan sesama.
Jangan Saling Membenci
Pesan yang sama juga ditegaskan Rasulullah SAW. Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Janganlah kalian saling membenci, jangan saling mendengki, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut Ustaz Muchamad Arifin, hadis tersebut menjadi pedoman penting dalam kehidupan umat Islam. Kebencian, kedengkian dan sikap saling membelakangi merupakan pintu yang dapat mengantarkan manusia kepada perpecahan.
“Islam tidak mengajarkan kita menjadi manusia yang mudah membenci. Kalau ada perbedaan, selesaikan dengan ilmu dan akhlak. Kalau ada kesalahan, nasihati dengan cara yang baik. Jangan sedikit-sedikit menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan,” kata Ustaz Muchamad Arifin.
Berbeda untuk Saling Mengenal
Dalam kehidupan bangsa Indonesia yang penuh keberagaman, Ustaz Muchamad Arifin mengaitkan pesan persatuan tersebut dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menunjukkan bahwa keberagaman merupakan bagian dari sunnatullah. Perbedaan suku, bangsa, budaya dan latar belakang bukan untuk saling merendahkan, melainkan agar manusia saling mengenal dan membangun kehidupan bersama.
“Indonesia adalah bangsa yang sangat beragam. Islam tidak menyuruh kita menghapus keberagaman. Islam mengajarkan bagaimana keberagaman itu menjadi jalan untuk saling mengenal, saling menghormati dan saling berbuat kebaikan,” jelas Ustaz Muchamad Arifin.
Persatuan Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika
Dalam konteks kehidupan berbangsa, nilai tersebut sejalan dengan sila ketiga Pancasila: Persatuan Indonesia serta filosofi Bhinneka Tunggal Ika.
Bagi Ustaz Muchamad Arifin, nilai persatuan dalam kehidupan kebangsaan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Justru umat Islam memiliki tanggung jawab moral dan keagamaan untuk menjaga kedamaian, persaudaraan dan keutuhan bangsa.
“Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan kita berbeda tetapi tetap satu. Al-Qur’an mengajarkan kita bersaudara dan tidak bercerai-berai. Maka jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh. Jadikan perbedaan sebagai kekayaan untuk membangun persatuan,” ungkap Ustaz Muchamad Arifin.
Menjaga Persatuan Dimulai dari Diri Sendiri
Menutup kajiannya, Ustaz Muchamad Arifin mengajak jamaah memulai menjaga persatuan dari lingkungan terdekat: keluarga, masjid, masyarakat hingga kehidupan berbangsa.
Persatuan tidak akan lahir hanya melalui slogan. Persatuan harus dimulai dari kemampuan menahan diri, menjaga lisan, menghindari prasangka, tidak menyebarkan fitnah, tidak mudah mempercayai berita yang memecah belah, serta membiasakan tabayun ketika menerima informasi.
“Jangan bertanya, apa yang sudah dilakukan orang lain untuk menjaga persatuan? Tetapi tanyakan kepada diri kita: apa yang sudah saya lakukan untuk menjaga persatuan?” pesan Ustaz Muchamad Arifin.
Menurut Ustaz Muchamad Arifin, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjadi bagian dari solusi, bukan menjadi sumber perpecahan.
“Kemerdekaan adalah anugerah, persatuan adalah amanah, dan menjaga persaudaraan adalah perintah Allah. Maka mari kita isi kemerdekaan dengan memperkuat persatuan, memperbanyak kebaikan dan menjaga bangsa ini dari segala bentuk perpecahan.”
KIS Masjid Attaqwa pagi itu pun menjadi momentum untuk kembali mengingatkan jamaah bahwa menjaga persatuan bukan sekadar tugas pemerintah atau tokoh masyarakat. Menjaga persatuan adalah tanggung jawab setiap Muslim dan setiap anak bangsa.





