Ust. Muchamad Arifin: Menjaga Komitmen Ikrar dalam Setiap Rakaat: “Iyyaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in”
SURABAYA — Kajian Inspiratif Subuh (KIS) Masjid Attaqwa Pogot Surabaya, Rabu (19/8/2026), mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada rutinitas menjalankan shalat, tetapi menghadirkan makna dan komitmen dari setiap bacaan yang diucapkan di dalamnya.

Dalam kajian yang disampaikan Ustad Muchamad Arifin, jamaah diajak merenungkan kembali salah satu ikrar penting yang setiap Muslim ucapkan berulang kali dalam setiap rakaat shalat:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah: 5)
Ustad Muchamad Arifin mengajak jamaah untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah ikrar yang begitu sering diucapkan dalam shalat benar-benar telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Setiap hari kita berulang kali membaca Al-Fatihah. Kita memuji Allah, kita mengagungkan Allah, kita menyebut Allah sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Kemudian kita menyatakan, Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Tetapi sudahkah apa yang kita ucapkan itu benar-benar menjadi komitmen hidup kita?” demikian inti perenungan yang disampaikan Ustad Muchamad Arifin.
Menurutnya, seorang Muslim tidak semestinya memisahkan antara apa yang diucapkan dalam shalat dan apa yang dilakukan setelah shalat.
Shalat merupakan ruang seorang hamba memperbarui ikrar kepada Allah. Ketika seorang Muslim mengatakan, “Hanya kepada-Mu kami menyembah,” maka sesungguhnya ia sedang menyatakan bahwa hidupnya tidak boleh keluar dari pengabdian kepada Allah.
Demikian pula ketika mengatakan, “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan,” seorang Muslim menyadari bahwa segala kekuatan, kemampuan dan keberhasilan pada hakikatnya berasal dari pertolongan Allah.
Karena itu, shalat seharusnya tidak berhenti ketika salam diucapkan.
Komitmen yang diikrarkan di dalam shalat harus dibawa keluar dari masjid, hadir dalam keluarga, pekerjaan, lingkungan masyarakat, serta dalam setiap keputusan dan perilaku kehidupan.
Ikrar yang Harus Dibuktikan
Ustad Muchamad Arifin mengajak jamaah untuk melihat Al-Fatihah bukan hanya sebagai bacaan wajib dalam shalat, tetapi juga sebagai rangkaian pendidikan jiwa.
Setiap rakaat seorang Muslim memuji Allah:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”
Kemudian mengakui kasih sayang-Nya:
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
“Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”
Kemudian menyatakan penghambaan:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Menurut Ustad Muchamad Arifin, rangkaian tersebut seharusnya membentuk karakter seorang Muslim.
Jika kita memuji Allah sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, maka kita pun harus belajar menjadi manusia yang penuh kasih sayang.
Jika kita menyatakan hanya kepada Allah kita menyembah, maka kehidupan kita harus diarahkan untuk mencari ridha-Nya.
Jika kita mengakui hanya kepada Allah kita memohon pertolongan, maka kita tidak boleh mudah sombong ketika memperoleh keberhasilan.
Di sinilah pentingnya menjaga komitmen.
Jangan sampai lisan kita mengatakan satu hal dalam shalat, tetapi perilaku kita setelah keluar dari masjid justru bertentangan dengan apa yang kita ikrarkan.
Shalat Harus Mengubah Perilaku
Al-Qur’an memberikan ukuran yang sangat jelas tentang dampak shalat dalam kehidupan.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-’Ankabut: 45)
Ayat ini memberikan pesan bahwa shalat memiliki dampak moral.
Shalat bukan hanya gerakan berdiri, rukuk dan sujud.
Shalat seharusnya membentuk manusia yang semakin mampu meninggalkan keburukan.
Setelah shalat, lisannya lebih terjaga.
Setelah shalat, hatinya lebih bersih.
Setelah shalat, ia semakin jujur.
Setelah shalat, ia semakin amanah.
Setelah shalat, ia semakin santun kepada keluarga.
Setelah shalat, ia semakin peduli kepada tetangga.
Setelah shalat, ia semakin mampu menahan amarah.
Dan setelah shalat, ia semakin takut melakukan perbuatan yang dimurkai Allah.
Jangan Sampai Shalat Hanya Mengubah Posisi, Bukan Perilaku
Dalam kajian tersebut, jamaah diajak melakukan introspeksi.
Jangan sampai shalat hanya mengubah posisi kita dari berdiri menjadi rukuk, dari rukuk menjadi sujud, lalu kembali berdiri dan salam, tetapi tidak mengubah akhlak dan perilaku kita.
Jangan sampai kita berkali-kali mengucapkan:
“Hanya kepada-Mu kami menyembah.”
Tetapi dalam kehidupan justru lebih takut kepada manusia daripada kepada Allah.
Jangan sampai kita mengucapkan:
“Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Tetapi ketika mendapatkan keberhasilan, kita lupa bahwa semuanya adalah pertolongan Allah.
Dan jangan sampai setiap hari kita membaca:
“Ar-Rahmanir-Rahim.”
Tetapi hati kita keras kepada orang lain.
Dari Masjid Dibawa ke Kehidupan
KIS Masjid Attaqwa mengajak jamaah untuk menjadikan shalat sebagai titik awal perubahan.
Masjid bukan tempat seseorang berhenti dari kehidupan, tetapi tempat seseorang mengisi kembali kekuatan ruhani untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Setelah Subuh, setelah Maghrib, setelah Isya, setelah setiap shalat, seorang Muslim kembali ke kehidupan dengan membawa satu kesadaran:
Saya telah berikrar kepada Allah.
Maka jangan khianati ikrar itu.
Ketika keluar dari masjid, bawalah nilai shalat ke rumah.
Bawalah ke tempat kerja.
Bawalah ketika berdagang.
Bawalah ketika memimpin.
Bawalah ketika menjadi orang tua.
Bawalah ketika menjadi tetangga.
Bawalah ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pendapat.
Sebab ukuran keberhasilan shalat bukan hanya ketika seseorang mampu menyelesaikan rakaatnya, tetapi juga ketika nilai-nilai shalat itu tercermin dalam kehidupannya.
Menjadi Hamba yang Konsisten
Pada akhirnya, kajian KIS ini mengajak jamaah untuk menjadi hamba yang memiliki kesesuaian antara ucapan, keyakinan dan perbuatan.
Apa yang kita ucapkan di hadapan Allah dalam shalat hendaknya menjadi komitmen yang kita jalankan setelah shalat.
Setiap rakaat adalah kesempatan untuk memperbarui ikrar.
Setiap sujud adalah kesempatan untuk merendahkan diri di hadapan Allah.
Setiap salam adalah awal untuk kembali menjalani kehidupan dengan membawa nilai-nilai penghambaan kepada-Nya.
Karena itu, mari kita renungkan:
Sudahkah shalat kita mengubah diri kita?
Sudahkah “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” menjadi komitmen hidup kita?
Sudahkah pujian kita kepada Allah melahirkan rasa syukur?
Sudahkah pengakuan kita kepada Ar-Rahman dan Ar-Rahim melahirkan kasih sayang kepada sesama?
Dan yang paling penting:
Sudahkah shalat kita benar-benar menjauhkan kita dari perbuatan keji dan mungkar?
Semoga setiap rakaat yang kita lakukan bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi menjadi proses untuk membentuk kita menjadi hamba Allah yang semakin taat, semakin bersyukur, semakin berakhlak, dan semakin bermanfaat bagi sesama.
Karena ikrar kepada Allah tidak cukup hanya diucapkan dalam shalat. Ikrar itu harus dibuktikan dalam kehidupan.
#KISMasjidAttaqwaPogot
#UstadMuchamadArifin
#IyyakaNabudu
#IyyakaNastain
#MaknaShalat
#KajianIslamSurabaya
#LensaDakwah





