Beranda / News / Menyampaikan Kebenaran adalah Tanggung Jawab Setiap Mukmin

Menyampaikan Kebenaran adalah Tanggung Jawab Setiap Mukmin

Bersama: Ustad Muchamad Arifin

LENSADAKWAH.COM. Surabaya — Kajian Inspirasi Subuh (KIS) di Masjid Attaqwa Pogot Surabaya, Rabu (23/9/2026), kembali melanjutkan pembahasan mengenai sifat wajib bagi para Rasul. Setelah sebelumnya membahas shiddiq dan amanah, kajian kali ini berfokus pada sifat tabligh, yakni menyampaikan kebenaran dan risalah Allah.

Kajian yang diasuh oleh ustad Muchamad Arifin tersebut mengajak jamaah memahami bahwa tabligh tidak semata-mata menjadi tugas para dai, muballigh, atau juru dakwah. Setiap hamba Allah yang beriman memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kebaikan dan kebenaran sesuai dengan ilmu serta kemampuan yang dimilikinya.

Menurut ustad Arifin, dakwah tidak selalu harus dilakukan dari atas mimbar. Orang tua dapat menyampaikan kebaikan kepada anaknya, guru kepada muridnya, pemimpin kepada orang yang dipimpinnya, dan setiap Muslim dapat menyampaikan pesan kebaikan melalui lingkungan maupun media yang dimilikinya.

“Tabligh bukan berarti semua orang harus menjadi dai, tetapi setiap orang beriman memiliki ruang untuk menyampaikan kebaikan sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya,” jelasnya.

Al-Qur’an memberikan pesan yang kuat tentang pentingnya menyampaikan kebenaran. Dalam QS. Al-Ma’idah: 67, Allah memerintahkan Rasul untuk menyampaikan apa yang telah diturunkan kepadanya. Pesan ini menunjukkan besarnya tanggung jawab menyampaikan risalah Allah.

Sementara dalam QS. An-Nahl: 125, Allah memberikan tuntunan bagaimana dakwah dilakukan, yakni dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan dialog dengan cara yang terbaik.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di era digital. Saat informasi dapat menyebar hanya dalam hitungan detik, setiap orang memiliki kemampuan untuk menjadi penyampai pesan. Namun, kemampuan tersebut sekaligus menghadirkan tanggung jawab agar informasi yang disampaikan benar, bermanfaat, dan tidak menimbulkan kerusakan.

Karena itu, tabligh di era modern tidak cukup hanya dengan keberanian berbicara. Ia membutuhkan ilmu, kejujuran, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Jangan sampai seseorang merasa sedang menyampaikan kebenaran, tetapi justru menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.

Hal ini sejalan dengan pesan QS. Al-Isra’: 36, yang mengingatkan agar manusia tidak mengikuti atau menyampaikan sesuatu yang tidak diketahuinya karena pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban.

Bagi ustad Arifin, tantangan dakwah hari ini bukan hanya bagaimana membuat orang mendengar, tetapi bagaimana menghadirkan pesan Islam yang benar, mencerahkan, dan menyejukkan di tengah derasnya arus informasi.

“Di era ketika informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, jadilah manusia yang tidak hanya cepat menyampaikan, tetapi juga benar, bijak, dan bertanggung jawab,” pesannya.

Kajian KIS Masjid Attaqwa tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa tabligh dapat dimulai dari hal sederhana: menyampaikan kebenaran, mengajak kepada kebaikan, memberikan nasihat dengan cara yang baik, dan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas.

Sebab, dakwah bukan hanya tentang siapa yang berdiri di atas mimbar. Dakwah juga tentang bagaimana setiap Muslim menghadirkan kebaikan melalui perkataan, tulisan, perilaku, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

#KIS #MasjidAttaqwa #MasjidAttaqwaPogot #KajianInspirasiSubuh #Tabligh #Dakwah #DakwahDigital #SifatRasul #MuchamadArifin #Surabaya