Beranda / News / Merlion: Dari Simbol Pariwisata Menjadi Ikon Singapura

Merlion: Dari Simbol Pariwisata Menjadi Ikon Singapura

Singaoura, 9 Agustus 2026 Di sela perjalanan rihlah dakwah dan budaya di Singapura, Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyempatkan diri singgah di kawasan Merlion Park, salah satu ikon paling terkenal di negeri ini.

Di hadapan patung berkepala singa dengan tubuh ikan yang menyemburkan air ke arah Singapore River, Arifin tidak sekadar menikmati suasana dan mengabadikan perjalanan. Baginya, setiap tempat memiliki cerita dan pelajaran yang dapat menjadi bagian dari perjalanan dakwah—termasuk bagaimana Singapura membangun identitasnya melalui sebuah simbol yang sederhana namun kuat.

Patung tersebut adalah Merlion, gabungan kata “mer” yang berarti laut dan “lion” yang berarti singa. Namun menariknya, Merlion bukanlah simbol kuno yang telah ada sejak berdirinya Singapura. Ia justru lahir dari gagasan promosi pariwisata pada era modern.

Konsep Merlion mulai dibuat pada 1964 sebagai logo Singapore Tourist Promotion Board, lembaga yang kemudian menjadi Singapore Tourism Board. Desainnya dibuat oleh Alec Fraser-Brunner, seorang zoolog Inggris yang saat itu menjadi kurator Van Kleef Aquarium di Singapura.

Kepala singa memiliki kaitan dengan kisah Sang Nila Utama dalam Malay Annals. Dalam kisah tersebut, sang pangeran melihat seekor hewan yang kemudian dikaitkan dengan singa. Dari sinilah nama Singapura, yang bermakna “Kota Singa”, mendapatkan salah satu kisah asal-usulnya.

Sementara tubuh ikan menggambarkan hubungan Singapura dengan laut serta sejarah awalnya sebagai kawasan pelabuhan. Dua unsur tersebut kemudian dipadukan menjadi satu simbol: singa sebagai identitas dan laut sebagai bagian dari sejarah perjalanan Singapura.

Dari sebuah logo, Merlion kemudian diwujudkan menjadi patung.

Pada 1972, pematung lokal Lim Nang Seng membangun patung Merlion setinggi 8,6 meter dengan berat sekitar 70 ton. Patung tersebut dibuat dari beton dengan kerangka baja dan dirancang agar air dapat menyembur dari mulutnya.

Pada 15 September 1972, patung Merlion diresmikan oleh Perdana Menteri Singapura saat itu, Lee Kuan Yew, di kawasan mulut Singapore River.

Perjalanan Merlion kemudian terus berkembang. Setelah pembangunan Esplanade Bridge mengubah pandangan terhadap patung dari arah laut, Merlion dipindahkan dan kawasan Merlion Park ditata kembali. Pada 2002, patung tersebut ditempatkan di lokasi yang sekarang menjadi salah satu titik kunjungan wisata paling populer di Singapura.

Kini, Merlion bukan lagi sekadar logo promosi pariwisata. Ia telah menjelma menjadi ikon visual Singapura yang dikenal hingga berbagai penjuru dunia.

Bagi Muchamad Arifin, perjalanan seperti ini memberikan pelajaran tersendiri. Rihlah dakwah tidak selalu harus berlangsung di ruang-ruang pengajian. Melihat sejarah, mengenal budaya, dan memahami bagaimana sebuah bangsa membangun identitasnya juga dapat menjadi cara memperluas wawasan dalam menjalankan dakwah.

Dari Merlion, kita belajar bahwa sebuah bangsa dapat membangun identitas melalui simbol yang sederhana, tetapi sarat makna. Dari perjalanan itu pula, dakwah dapat mengambil hikmah: bahwa kemajuan tidak hanya dibangun dengan gedung-gedung tinggi, tetapi juga dengan kemampuan sebuah masyarakat merawat sejarah, identitas, dan nilai yang dimilikinya.

Merlion Park, Singapura — bagian dari Rihlah Dakwah dan Budaya Muchamad Arifin, Ketua LDK Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Tag: