Menelusuri Jejak Islam dan Merawat Semangat Dakwah Global

Singapura – Perjalanan dakwah tidak selalu berlangsung di mimbar dan ruang-ruang pengajian. Ada kalanya pesan dakwah justru ditemukan melalui perjalanan, melihat sejarah, menyusuri jejak perjuangan umat, dan mengambil pelajaran dari kehidupan Muslim di berbagai belahan dunia. Semangat itulah yang mewarnai rihlah dakwah ke Masjid Sultan, Singapura, Ahad, 9 Agustus 2026, bersama Ust. Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Masjid Sultan yang berada di kawasan Kampong Glam menjadi salah satu tempat penting dalam perjalanan sejarah Islam di Singapura. Berdiri di tengah kawasan yang kini berkembang sebagai bagian dari Singapura modern, masjid ini menjadi pengingat bahwa perjalanan sebuah bangsa tidak pernah lepas dari kontribusi komunitas, budaya, dan agama yang hidup di dalamnya.
Memasuki ruang utama Masjid Sultan menghadirkan suasana yang khas. Ornamen kaligrafi, perpaduan warna hijau dan emas, serta arsitektur yang indah memperlihatkan bahwa masjid bukan sekadar bangunan untuk melaksanakan ibadah. Ia juga menjadi ruang yang menyimpan sejarah dan memperlihatkan bagaimana umat Islam menjaga warisan keagamaannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebagai Ketua LDK PP Muhammadiyah, Muchamad Arifin memandang rihlah dakwah memiliki arti penting dalam memperluas wawasan gerakan dakwah. Menurutnya, dakwah perlu terus membuka diri terhadap pengalaman umat Islam di berbagai negara, sehingga para dai dan penggerak dakwah tidak hanya memahami persoalan masyarakat dari lingkungan sendiri, tetapi juga mampu melihat perkembangan dakwah dalam perspektif yang lebih luas dan global.
Masjid Sultan juga memberikan pelajaran tentang pentingnya kebersamaan dalam membangun kehidupan umat. Sejarah masjid menunjukkan adanya keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan rumah ibadah. Semangat tersebut menjadi pesan yang relevan hingga hari ini bahwa memakmurkan masjid bukan hanya tanggung jawab pengurus atau kelompok tertentu, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh umat.
Rihlah dakwah ke Masjid Sultan akhirnya bukan sekadar perjalanan mengunjungi sebuah bangunan bersejarah di Singapura. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi ruang untuk menyapa sejarah, memperluas wawasan, dan menemukan inspirasi bagi dakwah masa kini. Dari Singapura, semangat itu dibawa kembali: bahwa dakwah harus terus bergerak melampaui batas tempat, membangun persaudaraan, memperkuat peradaban, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi kehidupan. Arifin





