Beranda / News / PANGGILAN DARURAT DI ZAMAN PENUH FITNAH

PANGGILAN DARURAT DI ZAMAN PENUH FITNAH

Bersama: Ustad Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah

SURABAYA — Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat tidak hanya menghadapi kemudahan mendapatkan pengetahuan, tetapi juga berhadapan dengan ancaman fitnah yang dapat menyebar begitu cepat. Satu informasi yang belum tentu benar dapat berpindah dari satu telepon genggam ke telepon genggam lainnya dan menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan detik.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustad Muchamad Arifin, saat menyampaikan Kajian Ahad Pagi di Masjid Nurul Islam, Jalan Banyu Urip Kidul VI/66 Surabaya, Ahad (4/10/2026).

Kajian yang diselenggarakan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Banyu Urip Surabaya itu dihadiri Pimpinan Ranting Muhammadiyah, Pimpinan Ranting Aisyiyah, seluruh organisasi otonom Muhammadiyah, serta jamaah Masjid Nurul Islam. Antusiasme jamaah membuat ruang masjid hingga bagian luar dipenuhi peserta.

Mengangkat tema “Panggilan Darurat Dakwah di Zaman Penuh Fitnah”, Arifin mengajak jamaah untuk tidak hanya menjadi penonton ketika berbagai informasi yang menyesatkan dan memecah belah bertebaran di ruang digital.

Menurutnya, ketika fitnah semakin mudah menyebar, maka dakwah juga harus semakin hadir. Dakwah tidak boleh berhenti di mimbar dan ruang-ruang pengajian, tetapi harus mampu menjangkau ruang digital tempat masyarakat setiap hari menerima dan membagikan informasi.

Ia mengingatkan pesan Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:

“Jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Bagi Arifin, ayat tersebut bukan hanya mengajarkan kehati-hatian dalam menerima berita, tetapi juga menjadi pengingat agar setiap muslim memiliki tanggung jawab sebelum menyampaikan dan menyebarkan informasi.

“Di zaman sekarang, fitnah tidak selalu datang dari pintu ke pintu. Fitnah bisa masuk melalui layar telepon genggam kita. Karena itu, kita harus sadar bahwa setiap jari yang menekan tombol kirim juga memiliki tanggung jawab,” ujarnya.

Ia mengajak jamaah untuk berhenti menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi yang tidak jelas kebenarannya. Sebaliknya, media sosial harus diisi dengan pesan yang mencerdaskan, menyejukkan, mempererat persaudaraan, dan menghadirkan kemanfaatan.

“Inilah panggilan darurat dakwah. Ketika fitnah semakin cepat menyebar, kebaikan juga harus lebih cepat kita sebarkan. Jangan hanya bertanya apa yang salah di media sosial, tetapi mari bertanya: apa kebaikan yang sudah kita hadirkan di sana?” tutur Arifin.

Menurutnya, dakwah di era digital membutuhkan kesadaran baru. Setiap orang dapat menjadi bagian dari dakwah, bukan hanya mereka yang berdiri di atas mimbar. Membagikan informasi yang benar, mengingatkan dengan cara yang baik, tidak ikut menyebarkan kabar bohong, serta menjaga lisan dan jari dari hal-hal yang merugikan orang lain juga merupakan bagian dari tanggung jawab dakwah.

“Jangan jadikan media sosial sebagai tempat menumpahkan kemarahan dan menyebarkan fitnah. Mari kita jadikan media sosial sebagai ruang dakwah, ruang kebaikan, ruang ilmu, dan ruang untuk menghadirkan kedamaian,” pesannya.

Penyampaian materi semakin menggugah ketika Arifin menyisipkan cerita dan pengalaman dakwah di berbagai daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Kisah-kisah tersebut memberikan gambaran bahwa dakwah membutuhkan kehadiran, kepedulian, dan keberanian untuk turun langsung menemui masyarakat.

Suasana kajian pun berlangsung penuh inspirasi. Jamaah tidak hanya diajak memahami bahaya fitnah, tetapi juga disadarkan bahwa di tengah zaman yang penuh tantangan, dakwah memiliki panggilan yang semakin besar.

Dari Masjid Nurul Islam, pesan itu menjadi sederhana: jangan menjadi penyebar fitnah ketika kita bisa menjadi penyebar kebaikan. Jangan hanya memenuhi media sosial dengan informasi, tetapi hadirkan nilai dan manfaat di dalamnya.

Sebab, di zaman ketika keburukan dapat menyebar dalam hitungan detik, dakwah tidak boleh terlambat hadir.

Panggilan darurat dakwah itu ada di hadapan kita. Dan mungkin, panggilan itu sedang mengetuk jari kita sendiri.

#PanggilanDaruratDakwah #ZamanPenuhFitnah #LDKMuhammadiyah #Muhammadiyah #DakwahDigital #DakwahKomunitas #KajianAhadPagi #MuchamadArifin #MasjidNurulIslam #BanyuUripSurabaya #LawanFitnah #SebarkanKebaikan