Beranda / News / Pantun Menyentuh Hati: Cara Unik Raker Masjid At-Taqwa Pogot Surabaya Menyatukan Rasa dan Gagasan

Pantun Menyentuh Hati: Cara Unik Raker Masjid At-Taqwa Pogot Surabaya Menyatukan Rasa dan Gagasan

LENSADAKWAH.COM. Prigen – Rapat Kerja (Raker) Takmir Masjid At-Taqwa Pogot Surabaya yang dilaksanakan pada Jum’at–Sabtu, 1–2 Mei 2026 di Argo Mulia Prigen, Pasuruan, menghadirkan nuansa yang tidak biasa. Di tengah forum yang sarat dengan pembahasan program dan arah gerak organisasi, terselip pendekatan yang sederhana namun mengena: pantun sebagai media menyentuh hati.

Sejak awal hingga akhir kegiatan, pantun hadir hampir di setiap sesi—mengawali pembukaan, menghidupkan sidang-sidang, hingga menutup rangkaian acara. Kehadirannya bukan sekadar pemanis suasana, melainkan menjadi jembatan rasa yang menghubungkan pikiran dan hati para peserta.

Pantun-pantun yang dilantunkan menghadirkan kehangatan, mencairkan suasana, sekaligus menyampaikan pesan-pesan penting dengan cara yang lembut. Dalam balutan kata yang ringan dan berima, kritik dapat disampaikan tanpa melukai, nasihat hadir tanpa terasa menggurui, dan semangat kebersamaan tumbuh tanpa paksaan.

Salah satu pantun yang dibacakan pada sesi penutupan bahkan menggambarkan kedalaman makna dari seluruh rangkaian kegiatan:

Langit Prigen mulai meredup perlahan,
Kabut turun menyapa pegunungan.
Raker usai bukan akhir perjalanan,
Tapi awal langkah penuh pengabdian.

Pantun tersebut seolah menjadi refleksi bersama—bahwa apa yang telah dirumuskan dalam raker bukanlah akhir, melainkan awal dari pengabdian nyata dalam memakmurkan masjid.

Ketua Takmir Masjid At-Taqwa, Muchamad Arifin, menyampaikan bahwa pantun dipilih sebagai salah satu pendekatan komunikasi karena memiliki kekuatan untuk menyentuh hati.

“Pantun bisa menjadi sarana hiburan, tetapi juga cara untuk mengingatkan. Dengan pantun, pesan bisa disampaikan tanpa membuat orang tersinggung,” ungkapnya di sela-sela kegiatan.

Lebih dari itu, pantun dalam raker ini menjelma menjadi ruang ekspresi yang menghidupkan nilai-nilai kebersamaan. Ia tidak hanya mengundang tawa, tetapi juga menghadirkan kesadaran—bahwa setiap kata yang disampaikan dengan hati, akan lebih mudah diterima oleh hati.

Di tengah sejuknya udara Prigen, raker ini tidak hanya melahirkan program kerja, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam tentang pentingnya menyampaikan kebaikan dengan cara yang indah. Pantun menjadi bukti bahwa dakwah dan pengelolaan masjid tidak selalu harus kaku, tetapi bisa hadir dengan sentuhan budaya yang lembut dan menginspirasi.

Dari Prigen, sebuah pelajaran sederhana namun bermakna pun mengalir: bahwa menyentuh hati adalah kunci untuk menggerakkan langkah. Dan pantun, dalam kesederhanaannya, telah menjadi jalan untuk itu.

Tag: