LENSADAKWAH.COM – Lamongan. Suasana sore di halaman Masjid At Taqwa Muhammadiyah Godog tampak begitu semarak dan khidmat pada Ahad (1/3/2026). Tidak kurang dari seribu warga Godog dan sekitarnya memadati area masjid untuk mengikuti Kajian Ramadhan 1447 H yang digelar Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah (PRPM) Godog. Jamaah dari berbagai usia hadir dengan penuh antusias, menjadikan momentum tersebut sebagai ruang silaturahmi sekaligus penguatan ruhiyah di bulan suci.

Kajian menghadirkan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muchamad Arifin, yang membawakan tema “Tantangan Masa Depan Da’wah Muhammadiyah di Akar Rumput.” Dengan gaya penyampaian yang hangat, komunikatif, dan sesekali diselingi kisah nyata, ia mengajak jamaah untuk menjalani Ramadhan dengan kesungguhan iman.
Dalam tausiyahnya, ia menegaskan bahwa ampunan Allah hanya diraih oleh mereka yang berpuasa karena iman dan mengharap ridha-Nya. Mengutip hadis Rasulullah SAW tentang keutamaan puasa, ia mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum pembuktian kualitas iman. “Kesungguhan adalah pintu ampunan,” pesannya.
Yang membuat kajian sore itu terasa istimewa adalah kisah-kisah perjalanan dakwah yang ia bagikan. Ia menceritakan pengalaman berdakwah di daerah terpencil, menjangkau komunitas yang jauh dari akses pendidikan dan pembinaan keagamaan. Ia juga mengisahkan dinamika dakwah di komunitas khusus perkotaan yang memiliki tantangan berbeda—mulai dari derasnya arus informasi digital hingga problem sosial yang kompleks.

Cerita-cerita tersebut disampaikan dengan narasi yang hidup, menggambarkan bagaimana dakwah tidak selalu berlangsung di ruang nyaman, tetapi kerap menuntut kesabaran, keberanian, dan ketulusan. Jamaah tampak terbelalak dan larut dalam kisah yang menggugah, menyadari bahwa medan dakwah begitu luas dan penuh tantangan. Waktu terasa berjalan cepat hingga tak terasa azan Maghrib hampir berkumandang.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga lisan, termasuk di ruang digital. Di era gadget, kata-kata tidak hanya keluar dari mulut, tetapi juga dari jari dan pikiran. “Jangan sampai Ramadhan yang kita jalani dengan susah payah justru berkurang nilainya karena ucapan dan unggahan yang tidak terjaga,” tuturnya.
Kajian yang disampaikan melalui layar televisi besar dan dilengkapi tayangan video inspiratif tersebut berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan hingga menjelang berbuka puasa. Antusiasme ribuan warga menjadi bukti bahwa semangat dakwah yang membumi dan menyentuh realitas kehidupan umat selalu menemukan tempat di hati masyarakat.
Momentum ini tidak sekadar menjadi agenda Ramadhan tahunan, tetapi juga penguat komitmen bersama untuk menghadirkan dakwah yang mencerahkan, menggembirakan, dan menjawab tantangan zaman, baik di pelosok negeri maupun di tengah hiruk-pikuk perkotaan.