Beranda / News / RIHLAH DAKWAH DAN BUDAYA: MENYUSURI MALAYSIA, SINGAPURA DAN MALAKA

RIHLAH DAKWAH DAN BUDAYA: MENYUSURI MALAYSIA, SINGAPURA DAN MALAKA

Rihlah Dakwah dan Budaya: Menyusuri Malaysia, Singapura, dan Melaka

Perjalanan dakwah tidak selalu harus berlangsung di atas mimbar, di dalam masjid, atau di ruang-ruang pengajian. Ada kalanya dakwah hadir melalui perjalanan, perjumpaan dengan kebudayaan, serta kesediaan melihat kehidupan masyarakat yang beragam dengan hati dan pikiran yang terbuka.

Itulah yang dilakukan Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam sebuah rihlah dakwah dan budaya yang menyusuri sejumlah tempat di Malaysia, Singapura, hingga Melaka.

Perjalanan dimulai dari Malaysia, ketika ia menyempatkan diri melihat kawasan Batu Caves. Di tempat ini berdiri patung Dewa Murugan yang menjadi salah satu ikon keagamaan dan budaya masyarakat Hindu di Malaysia. Bagi seorang sarjana Perbandingan Agama sekaligus Instruktur Nasional Moderasi Beragama, kunjungan semacam ini bukan sekadar perjalanan wisata, tetapi menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana agama, budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat tumbuh dalam keberagaman.

Dari Malaysia, perjalanan berlanjut ke Singapura. Masjid Sultan menjadi salah satu persinggahan penting. Masjid bersejarah di kawasan Kampong Glam ini menjadi pengingat bahwa Islam memiliki jejak panjang dalam perjalanan sejarah dan perkembangan masyarakat Singapura.

Selanjutnya, perjalanan berlanjut ke Melaka. Di kota bersejarah ini, langkah Muchamad Arifin sampai di depan Christ Church Melaka, salah satu bangunan bersejarah yang menjadi bagian penting dari warisan sejarah kota Melaka. Berdiri di tengah kawasan yang memperlihatkan perjumpaan berbagai budaya dan agama, tempat ini memberikan pelajaran bahwa perjalanan sejarah manusia dibangun oleh perjumpaan berbagai latar belakang.

Bagi Muchamad Arifin, melihat tempat-tempat ibadah dan simbol keagamaan dari tradisi yang berbeda bukan berarti mencampuradukkan agama atau keyakinan. Justru, memahami keberagaman dapat semakin memperkuat kesadaran akan identitas dan keyakinan sendiri.

Baginya, di tengah keragaman suku, ras, dan agama, prinsip yang harus dibangun adalah saling mengenal, saling menghormati, tetapi tidak saling mengikuti. Mengenal bukan berarti mengikuti. Menghormati bukan berarti membenarkan semua keyakinan. Perbedaan tidak harus menghilangkan identitas, tetapi semestinya menjadi ruang untuk membangun kehidupan yang damai dan saling menghargai.

Prinsip tersebut sejalan dengan pesan Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar lita‘ārafū — saling mengenal.

Ayat tersebut memberikan pesan penting bahwa keberagaman merupakan bagian dari sunnatullah. Karena itu, perbedaan suku, ras, budaya, dan agama tidak semestinya menjadi alasan untuk saling merendahkan atau menjauhkan diri. Justru melalui perbedaan manusia didorong untuk saling mengenal dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Sebagai sarjana Perbandingan Agama dan Instruktur Nasional Moderasi Beragama, Muchamad Arifin memandang bahwa teguh dalam keyakinan tidak harus diwujudkan dengan menutup diri dari keberagaman. Moderasi beragama menuntut keseimbangan: kokoh dalam akidah, terbuka dalam pergaulan, santun dalam perbedaan, serta tetap menghormati hak orang lain untuk menjalankan keyakinannya.

Rihlah dakwah dan budaya ini pun menjadi ruang pembelajaran bahwa keberagaman bukan sesuatu yang harus ditakuti. Perbedaan dapat menjadi jembatan untuk saling mengenal, memahami, dan membangun persaudaraan kemanusiaan.

Dakwah, pada akhirnya, bukan hanya tentang bagaimana menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga bagaimana menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi kehidupan. Dakwah yang mencerahkan tidak membangun tembok kebencian, melainkan membuka ruang perjumpaan, menumbuhkan penghormatan, dan merawat persaudaraan.

Dari Malaysia, Singapura, hingga Melaka, perjalanan ini menjadi catatan tentang bagaimana dakwah, budaya, sejarah, dan moderasi beragama dapat berjalan beriringan.

Saling mengenal bukan berarti saling mengikuti. Saling menghormati bukan berarti kehilangan jati diri. Teguh dalam keyakinan, terbuka dalam pergaulan, dan bersama-sama merawat kedamaian.

Itulah makna rihlah dakwah dan budaya: melihat keberagaman dengan mata, memahami perbedaan dengan pikiran, dan merawat persaudaraan dengan hati.