Beranda / Umum / Belajar dari Alam, Tumbuh dalam Keceriaan: Outbound Mumtas Surabaya

Belajar dari Alam, Tumbuh dalam Keceriaan: Outbound Mumtas Surabaya

LENSADAKWAH.COM. Surabya – Langit pagi masih menyisakan kelembutan ketika 82 siswa kelas 2 SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtaz) berkumpul rapi di Masjid Jenderal A. Yani, Sidoyoso, Senin (04/05/2026). Wajah-wajah ceria dengan tas kecil di punggung menjadi pertanda dimulainya sebuah perjalanan—bukan sekadar wisata, tetapi petualangan belajar di alam terbuka menuju Ranting Sewu Park, Pandaan, Pasuruan.

Sejak awal, suasana hangat dan penuh semangat terasa begitu kental. Tawa anak-anak berpadu dengan nasihat penuh makna dari Kepala Sekolah, M. Khoirul Anam. Dalam sambutannya, ia menanamkan nilai adab sebagai fondasi utama perjalanan.

“Awali dengan doa, jaga ucapan dan perbuatan, serta patuhi arahan guru dan tim outbound,” pesannya lembut namun tegas—sebuah bekal sederhana yang sarat makna.

Perjalanan dua jam pun terasa singkat di tengah riuh cerita dan canda. Setibanya di lokasi, hamparan hijau dan udara segar pegunungan menyambut hangat. Kegiatan diawali dengan foto bersama, mengabadikan semangat kebersamaan, dilanjutkan dengan senam pagi yang membangkitkan energi untuk menjelajahi hari.

Dalam kelompok-kelompok kecil, para siswa mulai menyelami berbagai aktivitas edukatif. Di taman kelinci, mereka belajar mengenal hewan lucu itu secara langsung—memberi makan, memahami kebiasaan, hingga siklus hidupnya. Mata-mata kecil itu berbinar, memancarkan rasa ingin tahu yang tumbuh alami.

Petualangan berlanjut ke area hidroponik. Di sana, anak-anak diperkenalkan pada metode menanam tanpa tanah. Dengan penuh antusias, mereka mencoba menanam sayuran seperti selada dan kangkung—pengalaman nyata yang melampaui halaman buku pelajaran.

Puncak ketegangan sekaligus kegembiraan hadir di wahana flying fox. Rasa takut sempat menyapa, seperti yang dirasakan Visca, “Kalau berhenti nanti bagaimana?” tanyanya dengan wajah tegang. Namun, keberanian akhirnya mengalahkan keraguan. Setelah meluncur, rasa takut berubah menjadi tawa lepas—bahkan keinginan untuk mencoba kembali.

Keseruan lain hadir saat bermain lumpur dan menanam padi. Dengan kaki yang perlahan tenggelam di sawah, anak-anak belajar menanam sambil berjalan mundur—sebuah pengalaman baru yang sarat makna. Lumpur yang melekat di tubuh justru menjadi saksi tawa yang pecah tanpa henti. Di sanalah mereka belajar, bahwa setiap butir nasi yang mereka makan menyimpan proses panjang yang penuh perjuangan.

Sebagai penutup, bermain air di kolam pegunungan menjadi momen paling dinanti. Air yang dingin dan segar seakan menyapu lelah, menghadirkan kebahagiaan sederhana yang begitu tulus. Teriakan riang dan cipratan air menjadi harmoni akhir dari perjalanan yang berkesan.

Outbound ini bukan sekadar rekreasi, melainkan ruang pembelajaran yang hidup. Dari alam, anak-anak belajar tentang keberanian, kerja sama, dan rasa syukur. Nilai-nilai itu akan mereka bawa pulang—bukan hanya sebagai kenangan, tetapi sebagai cahaya kecil yang menuntun langkah mereka di masa depan.

Afuw Elkhoir