LENSADAKWAH.COM. Manado – Lembaga Dakwah Komunitas Muhammadiyah melalui kegiatan Bimbingan Teknis, Konsolidasi, dan Pengukuhan Dai Komunitas se-Sulawesi Utara tidak hanya membekali peserta dengan semangat dakwah lapangan, tetapi juga memperkuat kemampuan dakwah di era digital.

Dalam sesi yang berlangsung penuh antusias di BPMP Sulawesi Utara, Komarul Zaman menyampaikan materi bertema Strategi Dakwah Digital. Ia menegaskan bahwa perubahan zaman menuntut para dai untuk tidak hanya hadir di masjid dan majelis taklim, tetapi juga mampu hadir di ruang-ruang digital tempat masyarakat kini menghabiskan banyak waktunya.
Menurutnya, dakwah digital harus diawali dengan perubahan cara pandang atau mindset. Dai hari ini tidak cukup hanya mampu berbicara di depan jamaah, tetapi juga harus memahami bagaimana menyampaikan pesan Islam yang menenangkan, mencerahkan, dan menggembirakan melalui media sosial.
“Media sosial hari ini bukan sekadar tempat hiburan, tetapi sudah menjadi ruang perjumpaan baru masyarakat. Jika ruang ini tidak diisi oleh dakwah yang baik, maka akan diisi oleh konten yang belum tentu membawa kebaikan,” ungkapnya di hadapan puluhan peserta dai komunitas.
Dalam pemaparannya, ia mengenalkan berbagai platform digital seperti YouTube, Instagram, TikTok, dan Facebook beserta karakteristik audiens dan model kontennya masing-masing. Ia menjelaskan bahwa setiap platform memiliki cara komunikasi berbeda, sehingga dai perlu memahami pendekatan yang tepat agar pesan dakwah dapat diterima dengan baik.
YouTube, misalnya, dinilai cocok untuk penyampaian materi yang lebih mendalam dan edukatif. Sementara TikTok dan Instagram lebih efektif untuk konten singkat, menyentuh, dan cepat menjangkau generasi muda. Adapun Facebook masih memiliki kekuatan dalam membangun interaksi komunitas masyarakat yang lebih luas.
Tidak hanya itu, Komarul Zaman juga mengingatkan pentingnya menentukan topik dakwah dan membangun branding seorang dai. Menurutnya, masyarakat digital lebih mudah mengenali dai yang memiliki ciri khas, konsisten dalam pesan, dan mampu menghadirkan konten yang relevan dengan persoalan umat hari ini.
Ia menekankan bahwa dakwah digital bukan tentang menjadi viral, melainkan tentang menghadirkan manfaat. Konten sederhana yang tulus dan menyentuh hati, kata dia, sering kali lebih berpengaruh dibanding konten yang dibuat hanya untuk mengejar popularitas.
Suasana pelatihan pun terasa hidup. Para peserta tampak serius mengikuti materi karena menyadari bahwa tantangan dakwah hari ini semakin kompleks. Generasi muda kini lebih banyak belajar dari layar telepon genggam dibanding ruang-ruang pengajian konvensional.
Melalui kegiatan ini, Muhammadiyah ingin memastikan bahwa para dai komunitas mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dan ruh dakwah Islam yang menebarkan rahmat. Sebab di era digital saat ini, satu konten kebaikan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan hati yang sedang membutuhkan cahaya dan penguatan hidup.





