LENSADAKWAH.COM. Manado – Suasana tenang dan penuh kekhusyukan menyelimuti kegiatan kuliah shubuh di Masjid Darul Arqom pada Ahad pagi, 10 Mei 2026. Jamaah yang hadir tampak larut dalam tausiyah yang disampaikan oleh Muchamad Arifin dengan tema “Hidup Dalam Pengawasan Allah.”

Dalam penyampaiannya, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut mengajak jamaah untuk menghadirkan kesadaran spiritual di tengah kehidupan modern yang serba terbuka dan penuh godaan. Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang tersembunyi dari pengawasan Allah SWT.
Menurut Ustad Arifin, di zaman sekarang manusia begitu takut diawasi oleh kamera, aturan, atau penilaian manusia di media sosial. Namun sering kali lupa bahwa ada pengawasan Allah yang jauh lebih sempurna dan tidak pernah terlewat sedikit pun. Kesadaran inilah yang seharusnya melahirkan kehati-hatian dalam setiap langkah kehidupan.
“Hidup ketika merasa diawasi Allah akan membuat seseorang lebih jujur, lebih lembut lisannya, lebih bersih hatinya, dan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan,” ungkapnya di hadapan jamaah.
Ia mencontohkan bagaimana banyak persoalan hari ini bermula dari hilangnya rasa muraqabah, yakni merasa selalu dilihat Allah. Tidak sedikit orang mudah menyebar fitnah di media sosial, berkata kasar, menipu, bahkan menyakiti orang lain karena merasa tidak diketahui manusia. Padahal, menurutnya, Allah mengetahui apa yang tampak maupun yang tersembunyi di dalam hati.
Dalam narasi yang menyejukkan, Ustad Arifin juga mengingatkan bahwa pengawasan Allah bukan untuk menakut-nakuti manusia, melainkan sebagai bentuk kasih sayang agar manusia tidak tersesat dalam hidupnya. Ketika seseorang sadar Allah selalu melihatnya, maka ia akan lebih mudah menjaga amanah, menghormati sesama, dan menjauhi perbuatan yang merugikan orang lain.
“Kadang kita mampu tampil baik di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki diri ketika sendirian. Padahal ukuran kemuliaan bukan hanya apa yang terlihat oleh manusia, tetapi bagaimana hati dan perbuatan kita di hadapan Allah,” tuturnya.
Kuliah shubuh tersebut berlangsung hangat dan penuh perenungan. Sejumlah jamaah tampak khidmat menyimak tausiyah yang dinilai relevan dengan kondisi kehidupan masyarakat saat ini, terutama di tengah derasnya arus informasi dan tantangan moral di era digital.





