Beranda / News / Dari Keteladanan Rasulullah ﷺ Menuju Islam Berkemajuan dan Generasi Masa Depan

Dari Keteladanan Rasulullah ﷺ Menuju Islam Berkemajuan dan Generasi Masa Depan

Bersama: Ustad Muchamad Arifin, Ketua LDK PP Muhammadiyah

SIDOARJO — Masjid Al-Falah Citra Harmoni, Sidodadi–Taman, Sidoarjo, Ahad (30/8/2026), menjadi tempat berlangsungnya Kajian Ahad Pagi yang diikuti jamaah dengan penuh antusias. Kajian yang mengangkat tema “Dari Keteladanan Rasulullah ﷺ Menuju Islam Berkemajuan dan Generasi Masa Depan” disampaikan oleh Ust. Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Dalam kajiannya, Ust. Muchamad Arifin mengajak jamaah untuk tidak sekadar mengenang sejarah kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Momentum Maulid Nabi, menurutnya, harus menjadi kesempatan untuk merenungkan kembali pesan, keteladanan, dan perjuangan Rasulullah ﷺ, kemudian menghadirkannya dalam kehidupan umat Islam di tengah perubahan zaman.

Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya diwujudkan melalui ungkapan dan peringatan seremonial. Keteladanan Rasulullah harus menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan keluarga, masyarakat, dan generasi masa depan.

“Jangan hanya mengenang sejarah kelahiran Rasulullah ﷺ. Mari kita renungkan apa yang menjadi pesan beliau agar kita selamat dari berbagai ujian dan godaan dunia,” ujar Ust. Muchamad Arifin.

Tantangan Era Digital dan Bahaya Fitnah di Media Sosial

Salah satu persoalan yang mendapat perhatian dalam kajian tersebut adalah derasnya arus informasi melalui media sosial. Ust. Muchamad Arifin mengingatkan jamaah agar tidak mudah menerima dan menyebarkan informasi sebelum memastikan kebenarannya.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan pesan Al-Qur’an dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 mengenai pentingnya melakukan tabayyun ketika menerima berita.

Jika pada masa lalu berita bohong dapat disebarkan dari satu orang kepada orang lain, kini perkembangan teknologi membuat sebuah informasi dapat menyebar dengan sangat cepat melalui media sosial.

“Kalau dulu berita datang melalui orang, sekarang berita bisa datang melalui media sosial. Kita sering tidak tahu siapa yang membuatnya, dari mana sumbernya dan apa tujuannya,” jelasnya.

Karena itu, jamaah diajak untuk berhati-hati agar media sosial tidak menjadi sarana penyebaran fitnah. Informasi yang belum terverifikasi dapat merugikan orang lain, menimbulkan prasangka, bahkan berkembang menjadi konflik di tengah masyarakat.

Lebih dari itu, isu yang sengaja dimainkan melalui media sosial dapat menjadi pemicu perpecahan umat. Perbedaan pilihan, pandangan dan latar belakang jangan sampai dimanfaatkan untuk mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.

“Jangan sampai jempol kita menjadi sumber fitnah. Jangan sampai media sosial yang seharusnya menjadi sarana silaturahmi justru menjadi sarana memecah persaudaraan,” pesannya.

Menurutnya, meneladani Rasulullah ﷺ di era digital juga berarti mampu menjaga perilaku di ruang maya. Lisan harus dijaga, demikian pula jari ketika menulis, berkomentar dan membagikan informasi.

Waspadai Modus Peredaran Narkoba yang Menyasar Generasi

Selain tantangan di ruang digital, Ust. Muchamad Arifin juga mengingatkan jamaah mengenai ancaman peredaran narkoba yang semakin menyasar generasi muda.

Menurutnya, masyarakat dan orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus baru peredaran narkoba. Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah pemanfaatan rokok elektrik atau vape dalam modus peredaran zat berbahaya.

Perkembangan gaya hidup dan teknologi, kata dia, tidak boleh membuat orang tua lengah. Sesuatu yang tampak sebagai bagian dari pergaulan anak muda dapat saja dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mendekatkan generasi muda dengan narkoba.

“Modusnya semakin rapi. Karena itu orang tua harus semakin peduli terhadap pergaulan anak-anak kita,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa menjaga generasi dari ancaman narkoba bukan hanya tugas aparat penegak hukum. Keluarga, sekolah, masjid, tokoh agama dan masyarakat harus mengambil peran bersama.

Islam Berkemajuan Harus Menjawab Persoalan Zaman

Ust. Muchamad Arifin menegaskan bahwa Islam berkemajuan harus mampu menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Keteladanan Rasulullah ﷺ harus diterjemahkan dalam kehidupan modern dengan membangun umat yang berilmu, berakhlak, memiliki kepedulian sosial, mampu menyaring informasi, menjaga persaudaraan dan melindungi generasi dari berbagai ancaman.

Karena itu, menurutnya, Islam berkemajuan tidak hanya berbicara tentang kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang kemajuan akhlak dan kualitas manusia.

“Kalau kita ingin generasi masa depan selamat, jangan hanya menyerahkan tanggung jawab kepada sekolah atau pemerintah. Rumah harus menjadi benteng pertama. Masjid harus menjadi tempat membangun karakter, dan masyarakat harus menjadi lingkungan yang saling menjaga,” tuturnya.

Kajian Ahad Pagi tersebut menjadi momentum untuk mengingatkan jamaah bahwa mencintai Rasulullah ﷺ harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Keteladanan beliau menjadi landasan untuk menghadapi tantangan zaman sekaligus membangun masa depan umat.

Meneladani Rasulullah ﷺ berarti menjaga diri, menjaga keluarga, menjaga persaudaraan, menjaga generasi, dan bersama-sama membangun Islam yang berkemajuan.

Dengan demikian, generasi masa depan tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara teknologi, tetapi juga kuat iman, kokoh akhlak, bijak bermedia sosial, mampu menjaga persatuan, serta memiliki keberanian untuk menolak narkoba dan berbagai bentuk kemaksiatan.